30 September, 2009

Sekilas Deskripsi Berita Kompas dan Majalah Tempo Bulan Juli 2005

Seperti biasa, nias kembali melakukan kliping berita tentang lingkungan terhadap Koran Kompas dan Tempo. Pada kliping kali ini dilakukan lebih spesifik, dengan membagi berita menjadi delapan wilayah. Mulai dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Maluku, Nusatenggra, dan terakhir Papua. Selain pembagian yang didasarkan wilayah, kliping kali ini juga dibagi atas tiga bagian, pertama adalah isu bersifat lokal, kedua berita dengan isu lokal namun implikasi kebijakan nasional. Ketiga adalah berita yang berhubungan dengan lingkungan yang bersifat nasional.

Namun dalam kliping kali ini yang akan coba dideskripsikan adalah berita yang masuk dalam kategori pertama, isu yang bersifat lokal. Dari seluruh berita yang dikliping mencakup berbagai macam tema, mulai dari infrastruktur, kerusakan jembatan sampai pada kelangkaan BBM.

Dari hasil pembacaan sekilas yang dilakukan terhadap seluruh berita yang dimuat oleh kedua media tersebut, dapat dilihat bahwa Sumatra menempati proporsi paling besar. Kecuali beberapa wilayah diatas, Papua dan Maluku, tidak masuk dalam pemberitaan Tempo. Terutama Kompas, sebaran yang menempatkan Sumatra sebagai lahan pemberitaan sangat jauh lebih besar dibanding dengan wilayah lainnya. Mengikuti Sumatra, wilayah kedua yang mendapat porsi terbesar adalah Kalimantan, menyusul Papua ( Kompas), Sulawesi, Nusatenggara, Maluku dn terakhir pulau Bali.

Sementara jika dilihat dari proporsi tema yang dimuat dalam pemberitaan tersebut. Kompas secara keseluruhan memuat berbagai tema yang beragam, dalam suatu wilayah, walaupun tetap memiliki tema yang dominan. Sementara Tempo, secara umum dapat dikatakan menuangkan tema yang hampir sama, yaitu pencemaran lingkungan.

Tema yang dimuat dalam pemberitaan Kompas wilayah Sumatra, menempatkan masalah infrastruktur pada top rangking pemberitaan. Isinya sebagian besar tentang kerusakan jalan, jembatan maupun polemik tentang pembangunaannya, dan satu berita tentang pembukaan kebali sebuah jalan. Peringkat kedua tentang muatan beritanya adalah tentang pertanian. Isinya berkisar tentang kemalangan petani akibat harga yang semakin turun, pembakaran lahan, irigasi dan kemiskinan yang dialami warga sebagai akibatnya.

Selanjutnya disusul dengan pemberitaan perompakan maupun penyeludupan, mulai dari CPO hingga kayu. Berikutnya tentang kesehatan, mulai Flu burung dan kematian bayi akibat kelahiran yang terlalu dini, dan pada akhirnya berujung pada ketidakmampuan ekonomi warga. Setelah itu baru masuk pada isu kerusakan lingkungan, berupa pencemaran, potensi pertambangan yang semakin menurun hingga Ladang Ganja Ditemukan Aceh). Dan terakhir adalah berita tentang Kelangkaan BBM (Palembang), Gangguan Trafo (Palembang), Perburuan Liar Gajah (Lampung).

Sementara Tempo untuk wilayah Sumatra mengulas tentang supplay Energi yang semakin menipis, di Aceh, pengerukan Tambang di Bangka, serta kebakaran hutan di Sumatra.
Untuk Wilayah Kalimantan Kompas menempatkan kerusakan hutan sebagai pemberitaan yang paling sering muncul. Kerusakan ini akibat penebangan liar, kebakaran hutan maupun maraknya penyeludupan kayu. Dan satu diantaranya membahas tentang perlunya lapangan kerja sebagai usaha pengurangan penebagan ilegal oleh masayarakat. Isu kedua yang mucul adalah tentang kesehatan, Flu burung dan rabies. Flu burung berisi tentang kekurangan vaksin diwilayah tersebut. Selanjutnya berisi tentang kerusakan jalan, perompak minyak sawit, kematian penyu akibat jaring nelayan di Kalimantan Timur. Untuk Tempo wilayah Kalimantan memuat sebuah berita tentang pencemaran laut akibat tumpahan minyak.

Papuan dalam ulasan kompas sebagian besar memuat tentang peristiwa yang tenggelamnya kapal Digoel. Isinya mulai dari penyebab, korban, tersangka hingga evakuasi.Mengikuti kecelakaan Digoel, isu selanjutnya adalah tentang potensi kekayaan emas Papua, khususnya wilayah Siriwo, selanjutnya adalah masalah hutan, satwa, dan kesehatan memiliki proporsi yang sama.

Sulawesi dalam pemberitaan Kompas menyajika beritanya dengan menyebar. Temanya mulai dari rencana pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit (Sultengg). Perbatasan, yang berisi tentang minimnya perhatian pemerintah, Kepanikan warga akibat gempa di Sulut, tentang Gunung yang bertambah tinggi akibat letusan. Terakhir adalah tentang relokasi buyat yang tidak manusiawi. Sementara Tempo menempatkan tentang kasus Buyat menjadi satu satunya isu Sulawesi

Nusatenggara dalam Kompas memuat tentang busung lapar, keracunan setelah memakan ikan laut, dan satu lagi tentang perpajakan, ketidakadilan yang dialami oleh pedagang mutiara. Sementara Tempo menyoroti tentang trumbu karang, dalam usaha perbaikan alam bawah laut Komodo.

Dua wilayah dengan proporsi paling sedikit dalam pemberitaan media tersebut adalah Bali dan Maluku. Untuk Maluku, Kompas hanya menempatkan tiga berita. Isinya tentang perdagangan ilegal satwa Nuri, Saluran air yang rusak, dan kesulitan yang dialami pengerajin akibat kelangkaan bahan baku. Bali, tempo memuat tentang pencemaran logam berat di pantai Kuta, yang ditakutkan akan mengancam industri pariwisata. Kompas pun mengangkat isu pencemaran sumur Bedugul, akibat adanya bau belerang.

Nandan, Jogja, 30 Sep 2005

Potret Kalimantan, lewat Foto

Selasa 8 Februari 2005 harian Kompas, seperti biasa menempatkan foto pada bagian depannya. Foto ini, seperti biasa kita ketahui dalam hal berita bisa dikategorikan sebagai foto headline. Pada tanggal itu, foto yang menjadi headline, sekilas foto itu tak lebih seperti menunjukkan segompokan rumbai. Rumbai, dulunya biasa dipakai orang sebagai atap rumah. Kini atap yang terbuat dari daun puhon ini hanya digunakan untuk atap rumah – rumahan disawah.

Itu bukan rumah tempo dulu, atau rumah – rumahan di sawah. Didalam foto terlihat, disamping gompokan rumbai berserakan kayu yang begitu licin mungkin karena diketam, siku - siku yang cukup presisi. Mungkin hal semacam itu sulit ditemui pada rumah tempo dulu, apalagi rumah – rumahan di sawah. Entahlah, pikiran banyak orang akan melihat dan coba menebak foto apa itu?


Tapi, mungkin tak akan jauh dari perkiraan saya. Itu adalah foto tempat kadang sapi atau kerbau. Karena bangunan semacam itu yang mungkin masih banyak kita temui menggunakan atap rumbai. Atau mungkin juga gudang penyimpanan tembakau ataupun hasil pertanian lainnya yang biasanya ada di sawah.

Sepertinya kalau gudang menampung hasil pertanian, tidak. Disana tak terlihat sawah ataupun ladang. Disana hanya terlihat rumah beratapkan seng dan sedikit bagian bangunan yang terbuat dari beton.

Menerka itu sebagai kadang sapi atau kerbau, mungkin lebih dekat. Soalnya disekiranya terlihat rumah – rumah yang sudah beratapkan seng. Mungkin rumah pemilik kadang sapi. Tapi, apa mungkin didekatnya bakal ada yang mau mendirikan bangunan beton semacam itu, yang tampoaknya mirip pertokoan.

Ternyata salah semua. Itu bangunan sekolah yang sedang roboh. Untung ada caption yang dapat menjelaskan. Wah, parah juga kalo sampai tempat itu terlalu lama dianggap sebagai kandang kerbau. Lah, anak – anak yang belajar itu tentu akan marah. Masak. Tapi bagaimana bisa bangunan semacam itu digunakan untuk belajar, apalagi untuk sebuah institusi pendidikan formal! Apa masih nyaman? Apalagi yang belajar disana masih anak – anak kecil, sekolah dasar. Berapa banyak nyamuk yang bersembunyi dan siap menyantap darah – darah mereka? Akan demam berdarah dan cikungunya akan menyerang mereka?

Sebenarnya ada pertanyaan biasa dan sangat terduga. Kok mau - maunya mereka belajar ditempat seperti itu. Gurunya seperti apa ya? Cewek atau Cowok? Kayaknya sih laki – laki. Sulit memikirkan perempuan yang terbiasa dengan dandan akan mengajar disana. Kalaupun itu terjadi, kayaknya aku bisa membayangkan perempuan seperti apa, dia itu pasti perempuan tangguh. Sangat tangguh. Karena tak takut saat – saat tertentu bangunan itu akan roboh. Jangan – jangan dia sudah yakin dengan kekuatannya. Tapi, sangat bisa juga dia sangat peduli dengan pendidikan. Tapi yang jelas, bayarannya takkan lebih besar dari guru ditempat dengan gedung yang mencleng.

Inikah poteret pendidikan di negeri ini. Bisa jadi, bagaimana tidak, lebih banyak kabar korupsi yang terdengar dari pada berita baik tentang pendidikan. Wah, korupsi! Apa duit untuk merawat bangunan sekolah yang roboh itu juga ikut dilahap? Sudahlah, sulit menebaknya. Sama dengan menjawab tebakan teman saya yang pintar bikin tebakan. Sampai – sampai tak pernah terjawab, karena cuman dia yang tau jawabnya.

Kembali lagi. Sebenarnya wajar juga kalau bangunan itu terbuat dari kayu. Karena memang sekolah ini berada didaratan Kalimatan, pulau dimana kayu sangat berlimpah. Sampai – sampai, hutan Kalimantan ini dimasukkan sebagai paru – paru utama dunia, dari serangan lapisan ozon yang kian menipis. Ironisnya, hutan yang harusnya dapat digunakan untuk pembangunan, lebih banyak diseludupkan.

Istilah kerennya kini, ilegal loging. Saking banyaknya ilegal loging, yang diseludupkan ke luar Kalimatantan dan luar negri hingga kayu yang bangun sekolah itupun bukan kayu pilihan. Kayu pilihan untuk dijual keluar, kayu yang biasa – biasa dipakai untuk kepentingan masyarakat setempat. Misal bangun sekolah.

Di foto, terlihat besarnya kayu penopang rumbia tak sepadan dengan besar tiang penyangganya. Kecil sekali. Kayunya habis untuk dilarikan, untuk bangun sekolah cukup dengan kayu sisa, itupun kalo ada.

Bocah kecil, melihat – lihat entah apa yang ada dalam pikirannya. Sepertinya mereka lagi mencari sesuatu. Tapi kayaknya tak sedang mencari ilmu, yang biasanya terdapat disana,dari guru yang siap mengajar. Atau jangan – jangan sedang merenungi nasib temannya, yang luka - luka karena tertimpa bangunan itu. Tetapi jika dibandingkan dengan pakaian yang digunakan bocah itu, sebenarnya terlihat kawasan itu sudahlah maju. Pakaian itu, sepertinya sudah mirip dengan baju – baju yang dipakai anak – anak di perkotaan di daerah yang sudah maju. Sangat kontras dengan kondisi sekolah yang sedang roboh. Cukup beruntung negeri ini anak – anak ini masih mau sekolah, ditengan kondisi demikian. Mereka memang punya niat untuk belajar!

Sekolah ini terdapat disekitar kota, tepatnya di jalan Raya Kakap, hanya 19 dari kota Pontianak. Sayang, nuansa kota yang biasanya tercermin dengan modernitas, yang ditunjukkan dengan asupan teknolgi termasuk bangunan sama sekali tak tampak. Sekolah disekitar perkotaan saja sudah demikian parah. Apalagi, kalau sampai membayangkan sekolah yang ada dipelosok desa. Sepertinya ini menggambarkan Kalimantan seperti yang biasa terdengar. Tertinggal.

Nandan, Jogja 8 Feb 2005

Sarjana!!!

Hari ini tepat dua hari setelah aku diwisuda dan mejadi seorang sarjana Teknik Industri. Seorang teman datang bertanya, apa rasanya setelah menjadi sarjana. Aku ingin langsung memberikan jawaban. Yang terjadi aku hanya dapat diam beberapa lama. Memikirkan apa yang menjadi jawabanku atas pertanyaan itu.

Tak ada jawaban yang begitu baik muncul dalam pikiranku. Buntutnya yang ada dalam pikiranku hanya mengatakan, "biasa saja". Tak ada yang luar biasa! Mengenang ini aku jadi ingat pula pernyataan suster Lumban Raja, “wah sudah plonglah ya, sudah selesai”
Saat itu aku hanya menjawab sepertinya tidak ada muncul rasa plong itu.

Ya rasa plong, mungkin biasanya diwakili dengan hembusan napas panjang wah……. akhirnya. Itu tidak muncul. Berbeda saat selesai ujian pendadaran, saat itu, saat dikatakan kalau anda berhasil mempertanggungjawabkan skripsi anda. Dan anda dinyatakan lulus dengan nilai A minus.

Semuanya seperti lepas, tak ada yang melekat, terbang. Entah karena saat itu baru saja selesai ujian dan menghadapi empat orang dosen yang rata rata lulusan S2 dan S3. Tapi, yang jelas rasanya beda, disana ada sebuah perjuangan nyata, dan menyiratkan kemenangan besar. Kini, saat wisuda, dengan acara utama mengukuhkan kemenangan menjadi seorang sarjana, rasa tak muncul. ohhh sungguh sesuatu yang tak lengkap. Yap Plong itu tak ada

Jogja, 2 Nov 2005

Sebuah Refleksi: Salam Dalam Damai!

Entah memulai dari mana untuk mengungkapkan keluh kesah ini. Keluh kesah tentang bangsaku, Indonesia yang indah nan permai dulunya. Cerita nenek moyang akan negeri sejahtera dengan gelimpangan kekayaan alam, sepertinya hanya mirip mimpi ditengah malam. Jangankan kesejahtraan, melihat dan memandang burung berkicau atau rerimbunan hutan hijau bagaikan dansa latin saja yang sulit kutatap kini. Semua telah habis, Bapa dan Ibu yang mulia. Habis diterpa jalannya waktu yang beriringan dengan keserakahan.

Negeri itu tak menyanyi lagi. Lagu dengan suara kegembiraan dengan hentakan nada - nada kekohan sebuah bangsa berubah menjadi tangis. Ya, kini dia sedang menangis, meratapi. Ia kini hanya mampu melihat kehampaan dan kelunglayan akibat ketidakmampuan. Bagaimana tidak harta yang dulu dibanggakan, kini hanya tinggal utang dan keterpurukan. Anak kecil tak mampu sekolah akibat kemiskinan. Perempuan melahirkan ditepian jalanan. Sementara “keangkaramurkaan” menjadi simbol kehidupan yang ditonjolkan.

Sekarang yang tertatap mata hanyalah tinggal ringisan tangis bayi dipelukan ibu tak berdaya dengan ribuan rintangan membentang, yang siap menerkam masa depan. Pemandangan tumpukan senapan yang siap memuntahkan peluru. Dan jejeran kendaraan lapis baja yang siap menggilas dan menyantap anak bangsa yang hendak menatap masa depan. Menagis, memang demikian adanya. Tetapi ini hanyalah ratapan rakyat.

Semua kini sulit dipercaya, bahkan untuk percaya akan cerita nenek dan kakek moyang pun serasa harus membalikkan hati dan pikiran. Apa semua itu dulu benar. Apa benar nenek dan kakek moyangku dulu begitu hebat dan perkasa dalam membangun negeri dan bangsanya. Lah, keturanan siapakah dia, yang kini jadi panutanku. Entah dan kembali entah, semuanya jadi layak kupertanyakan. Sampai kapan kita begini, negeri ini akan tetap tertinggal, menangis tragis.

Sungguh ku tak mengerti!

Setidaknya demikianlah kecamuk dan gejolak hati dan pikiran kini. Ketika rakyat jelata yang masih coba berpikir akan nasib bangsa, negara dan diriku sendiri didalamnya. Bahkan mungkin semua anak negeri inipun sama. Bapak dan Ibu yang mulia, tak ada lagi yang bisa kita tatap dengan tenang kini. Sulit untuk menghayal dan bermimpi, ketika tau semuanya itu sekedar bungan dari gelapnya malam. Bagaiamana tidak, mulai dari masalah anak muda sampai masalah pemimpin negeriku.Semuanya hanya dapat menawarkan cerita yang tak pasti.

Salam terakhir saat hidup sudah tinggal renungan.
Jogja, 9 Nov 2005

Gubernur era Otonomi

Ibarat sebuah kapal yang sedang berlayar ditengah samudra, tentunya membutuhkan seorang nahkoda yang handal. Setidaknya ada beberapa kriteria umum yang harus dipenuhi, mulai kemampuan berenang hingga kemampuan teknis dan kemampuan mengambil keputusan disaat saat kritis. Selain itu, seorang nahkoda pun harus mampu membaca kondisi perairan yang sedang diarungi. Misalnya, karakter lautnya, mulai gelombang ombak dan faktor cuacanya. Sehingga kapal yang dipimpinnya pun dapat tiba dengan selamat di dermaga sebrang.

Tak jauh dari persoalan pemimpin itu, sebentar lagi kapal yang bernama Sumatra Utara akan memilih nahkodanya (Gubernur). Melalui sebuah mekanisme– pemilihannya. Mengibaratkan Sumatra Utara sebagai sebuah kapal, memang ada perbedaan nyata dari masa sebelumnya. Sebelumnya kapal ini berlayar di samudra negara yang berbentuk sentralis--. Namun kedepan kapal ini akan berlayar mengarungi samudra otonomi.

Dimana alur birokrasi pusat - daerah berada pada daerah tingkat II, terjadi reduksi- terhadap peran pemerintah tingkat I. Prinsip utamanya, dalam otonomi daerah terjadi pelimpahan kewenangan pusat kepada daerah tingkat II, yang merupakan wilayah administratif. Gubernur hanya sebagai pemimpin tertinggi wilayah administrasi otonomi, bukan lagi menjadi pemimpin utama sebuah wilayah administratif. Misalnya kebijakan pembangunan akan lebih banyak berada di daerah tingkat II.

Melihat reduksi atas munculnya otonomi daerah ini, menuntut adanya perubahan paradigma dan visi kepemimpinan. Salah satu bangunan paradigma kedepan, gubernur menjadi penyelaras perjalanan pembangunan masyarakat. Keberadaan otonomi, menempatkan gubernur sebagai pemacu jalannya pembangunan oleh pemerintah kabupaten. Sehingga persoalan krusial yang sesungguhnya adalah perlunya penanganan lintas sektoral, melalui sistem koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan simplikasi baik yang bersifat horizontal di daerah masing-masing maupun vertikal dengan pemerintahan yang lebih atas, dapat teratasi.

Dengan kemampuan melihat dan membaca relaitas kawasan dan masyarakat Sumatra Utara. Mulai dari melihat potensi yang dimiliki Sumatra Utara. Sehingga konsep pembangunan yang ada tidak lagi membebankan rakyat. Karena bukan rahasia umum lagi bahwa konsep otonomi telah pula mengalami pereduksian makna. Kecendrungan ini pun sebenarnya disebabkan ketidakmampuan birokrasi pemerintah dalam menggali potensi yang ada. Akibatnya melihirkan kebijakan pembebanan pajak pada masyarakat.

Disisi lain, Gubernur selaku pimpinan daerah propinsi lebih menguatkan fungsi monitoringnya. Dengan melihat secara langsung berbagai program pembangunan utamanya yang bersumber dari dana-dana pembangunan propinsi dan pusat. Contohnya penggunaan pembangunan yang bersifat fisik seperti pembangunan gedung, kantor, jembatan dan yang lainnya, maupun nonfisik yang menyangkut peningkatan human development indeks masyarakat di daerah seperti tingkat pendidikan masyarakat, kesehatan dan kesejahteraannya.

Hasilnya dapat dijadikan sebagai bahan kajian untuk mengevaluasi out put dan out come, termasuk kualitas kinerja pemerintah daerah kabupaten dalam melaksanakan fungsi-fungsi pembangunan, pelayanan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Pemaknaan sistem monitoring dan evaluasi yang dilakukan, tidak ditempatkan sebagai upaya pengawasan yang parsial.Tetapi, merupakan proses kontinuitas dari perencanaan berkelanjutan. Untuk mengetahui dan mencermati tingkat efektivitas pelaksanaan pembangunan itu yang telah dilakukan.

Upaya reinventing governance sebagai pengembangan paradigma baru dalam sistem birorkasi pemerintahan. Menempatkan pemerintahan propinsi bukan sebagai atasan langsung kabupaten Sehingga membawa konsekuensi perubahan makna sistem pengawasan, yang dilakukan gubernur. Dari struktural ke pengawasan yang bersifat fungsional.
Namun untuk mendapatkan kriteria gubernur yang ideal bukanlah persoalan gampang. Dibutuhkan dukungan semua elemen masyarakat.

Apalagi sistem pemilihannya masih melalui mekanisme DPRD. Untuk itu perlu penguatan bagi lembaga ini sehingga dapat menyalurkan hati nurani rakyat. Untuk menghindari budaya korupsi dan kolusi yang tertanam dan berakar kuat dalam lembaga ini.

Belum lagi, faktor budaya yang menaungi masyarakat Sumatra Utara. Dimana kedekatan hubungan kekerabatan masih sangat kental. Pada runutannya dapat menghasilkan proses pemilihan yang didasarkan pada ‘nepotisme’. Kultur masyarakat yang demikian tentunya membutuhkan penyadaran. Sekaligus dapat mencegah munculnya pemahaman bahwa Gubernur harus orang Sumatra Utara asli. Sebaliknya, mengarahkan pandangan masyarakat menjadi Gubernur adalah orang yang dapat melihat dan mengembangkan potensi Sumatra Utara.

Jogja, 18 April 2003

Akupun Terkejut, PASTI!

Mereka bilang itu pilihan, tapi bagiku itu nekad

Demikianlah pengalaman mengajarkan sesuatu kepadaku ketika ber—ada di Pojok Pusgiwa yang begitu gila itu. Persoalan manusia menjadi pertaruhan dan perdebatan yang selalu ada di dalamnya. Bagaimana tidak, ruangan ini memang diproklamirkan sebagai pers, memakai embel Mahasiswa lagi. Hingga sebutannya pun pers Mahasiswa. Dua kata yang memiliki arti dan tanggungjawab besar. Kita kenal, tahu dan paham apa itu Mahasiswa, demikian juga kiranya pers.

Kedua kata itu, tidak semata mata menjadi klausa, tapi juga sekaligus menjadi frase. Lantas menagapa? Mungkin itulah pertanyaannya. Benar, setidaknya jika dipahami pengertian yang terdapat dalam kedua kata itu tentunya menjadi memiliki pengertian yang jauh lebih dalam dari pada kedua kata itu berdiri sendiri. Mahasiswa, lebih jelasnya dikatakan sebagai manusia intelektual, yang memang memiliki kemampuan membangun rakyat. Lebih progresifnya, adalah golongan kritis dan kreatif terhadap pembelaan rakyat.

Sementara pers memiliki pemahaman lebih pada wadah penyambung lidah (ke-kritis-an) dan juga media pembelaan hak rakyat yang tergilas oleh kekuasaan. Dua pengertia kata yang begitu mulia, itulah identitas kita kini. Tidak bisa tidak, kita menjadi bagian golongan abu - abu (mahasiswa) yang paling berat, setidaknya itu kata Pius.

Jogja, 20 Okt 2005

Memahami

Malam memang selalu menggambarkan , kesunyian, kesepian sampai pada ketakutan. Ini hari kedua aku setelah lulus dari bangku kuliah, dan menjadi satu orang yang berhak memakai title ST (baca sudah Tua ya….) barusan saja aku menuliskan apa yang kurasakan setelah ada orang yang bertanya tentang arti dan rasa sebuah kelulusan. Semuanya nol besar.. ternyata seorang yang lulus dan menjadi sarjana ternyata tak mampu memberikan jawaban yang memuaskan dirinya. Aku yakin, apalagi orang lain, pasti itu sungguh tak mungkin.

Dihari kedua ini selain itu yang muncul pertannyaan diatas, ada hal yang sama yang datang. Ini memang bukan dari luar, tetapi dari dalam diri. Apa yang kini kamu maknai hidup dan cinta. aku tak pernah mau bicara tentang yang satu ini. bagiku ini hanyalah sebuah perjalanan yang pasti dan harus dilalui setiap orang, sesuai dengan takdir. ya ini sedikit membingungkan,. Sebenarnya aku hanya percaya pada sebagian sisi takdir. Ya takdir bagiku hanya berlaku untuk dua hal, yaitu kelahiran dan kematian. Diluar itu Tuhan memberikan kita sebuah kebebasan, untuk mengisi hidup. Lantas tentunya bagaimana dengan cinta, dimana aku meletakkannya?

Aku belum pernah bisa meletakkan cinta dalam hidup secara final. Walaupun dari dua hal pendapatku tentang takdir, mau tak mau dapat disamakan dengan menempatkan cinta pada posisi diluar takdir. Sekali lagi ini inipun tak dapat kujawab dengan final, dimanakah aku telah dan harus menempatkannya ? Sungguh –sungguh pertannyaan yan g sulit. Kalo kamu membaca ini, berarti kamu siap memberikan jawaban, setidaknya yang sudah pasti menurutmu !

Salam teman.

Cerita pertama,02 Nov 2009