Entah memulai dari mana untuk mengungkapkan keluh kesah ini. Keluh kesah tentang bangsaku, Indonesia yang indah nan permai dulunya. Cerita nenek moyang akan negeri sejahtera dengan gelimpangan kekayaan alam, sepertinya hanya mirip mimpi ditengah malam. Jangankan kesejahtraan, melihat dan memandang burung berkicau atau rerimbunan hutan hijau bagaikan dansa latin saja yang sulit kutatap kini. Semua telah habis, Bapa dan Ibu yang mulia. Habis diterpa jalannya waktu yang beriringan dengan keserakahan.
Negeri itu tak menyanyi lagi. Lagu dengan suara kegembiraan dengan hentakan nada - nada kekohan sebuah bangsa berubah menjadi tangis. Ya, kini dia sedang menangis, meratapi. Ia kini hanya mampu melihat kehampaan dan kelunglayan akibat ketidakmampuan. Bagaimana tidak harta yang dulu dibanggakan, kini hanya tinggal utang dan keterpurukan. Anak kecil tak mampu sekolah akibat kemiskinan. Perempuan melahirkan ditepian jalanan. Sementara “keangkaramurkaan” menjadi simbol kehidupan yang ditonjolkan.
Sekarang yang tertatap mata hanyalah tinggal ringisan tangis bayi dipelukan ibu tak berdaya dengan ribuan rintangan membentang, yang siap menerkam masa depan. Pemandangan tumpukan senapan yang siap memuntahkan peluru. Dan jejeran kendaraan lapis baja yang siap menggilas dan menyantap anak bangsa yang hendak menatap masa depan. Menagis, memang demikian adanya. Tetapi ini hanyalah ratapan rakyat.
Semua kini sulit dipercaya, bahkan untuk percaya akan cerita nenek dan kakek moyang pun serasa harus membalikkan hati dan pikiran. Apa semua itu dulu benar. Apa benar nenek dan kakek moyangku dulu begitu hebat dan perkasa dalam membangun negeri dan bangsanya. Lah, keturanan siapakah dia, yang kini jadi panutanku. Entah dan kembali entah, semuanya jadi layak kupertanyakan. Sampai kapan kita begini, negeri ini akan tetap tertinggal, menangis tragis.
Sungguh ku tak mengerti!
Setidaknya demikianlah kecamuk dan gejolak hati dan pikiran kini. Ketika rakyat jelata yang masih coba berpikir akan nasib bangsa, negara dan diriku sendiri didalamnya. Bahkan mungkin semua anak negeri inipun sama. Bapak dan Ibu yang mulia, tak ada lagi yang bisa kita tatap dengan tenang kini. Sulit untuk menghayal dan bermimpi, ketika tau semuanya itu sekedar bungan dari gelapnya malam. Bagaiamana tidak, mulai dari masalah anak muda sampai masalah pemimpin negeriku.Semuanya hanya dapat menawarkan cerita yang tak pasti.
Salam terakhir saat hidup sudah tinggal renungan.
Jogja, 9 Nov 2005
Mencoba bersentuhan lebih dekat, lebih terbuka dalam segala bentuk ruang dan waktu
30 September, 2009
Gubernur era Otonomi
Ibarat sebuah kapal yang sedang berlayar ditengah samudra, tentunya membutuhkan seorang nahkoda yang handal. Setidaknya ada beberapa kriteria umum yang harus dipenuhi, mulai kemampuan berenang hingga kemampuan teknis dan kemampuan mengambil keputusan disaat saat kritis. Selain itu, seorang nahkoda pun harus mampu membaca kondisi perairan yang sedang diarungi. Misalnya, karakter lautnya, mulai gelombang ombak dan faktor cuacanya. Sehingga kapal yang dipimpinnya pun dapat tiba dengan selamat di dermaga sebrang.
Tak jauh dari persoalan pemimpin itu, sebentar lagi kapal yang bernama Sumatra Utara akan memilih nahkodanya (Gubernur). Melalui sebuah mekanisme– pemilihannya. Mengibaratkan Sumatra Utara sebagai sebuah kapal, memang ada perbedaan nyata dari masa sebelumnya. Sebelumnya kapal ini berlayar di samudra negara yang berbentuk sentralis--. Namun kedepan kapal ini akan berlayar mengarungi samudra otonomi.
Dimana alur birokrasi pusat - daerah berada pada daerah tingkat II, terjadi reduksi- terhadap peran pemerintah tingkat I. Prinsip utamanya, dalam otonomi daerah terjadi pelimpahan kewenangan pusat kepada daerah tingkat II, yang merupakan wilayah administratif. Gubernur hanya sebagai pemimpin tertinggi wilayah administrasi otonomi, bukan lagi menjadi pemimpin utama sebuah wilayah administratif. Misalnya kebijakan pembangunan akan lebih banyak berada di daerah tingkat II.
Melihat reduksi atas munculnya otonomi daerah ini, menuntut adanya perubahan paradigma dan visi kepemimpinan. Salah satu bangunan paradigma kedepan, gubernur menjadi penyelaras perjalanan pembangunan masyarakat. Keberadaan otonomi, menempatkan gubernur sebagai pemacu jalannya pembangunan oleh pemerintah kabupaten. Sehingga persoalan krusial yang sesungguhnya adalah perlunya penanganan lintas sektoral, melalui sistem koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan simplikasi baik yang bersifat horizontal di daerah masing-masing maupun vertikal dengan pemerintahan yang lebih atas, dapat teratasi.
Dengan kemampuan melihat dan membaca relaitas kawasan dan masyarakat Sumatra Utara. Mulai dari melihat potensi yang dimiliki Sumatra Utara. Sehingga konsep pembangunan yang ada tidak lagi membebankan rakyat. Karena bukan rahasia umum lagi bahwa konsep otonomi telah pula mengalami pereduksian makna. Kecendrungan ini pun sebenarnya disebabkan ketidakmampuan birokrasi pemerintah dalam menggali potensi yang ada. Akibatnya melihirkan kebijakan pembebanan pajak pada masyarakat.
Disisi lain, Gubernur selaku pimpinan daerah propinsi lebih menguatkan fungsi monitoringnya. Dengan melihat secara langsung berbagai program pembangunan utamanya yang bersumber dari dana-dana pembangunan propinsi dan pusat. Contohnya penggunaan pembangunan yang bersifat fisik seperti pembangunan gedung, kantor, jembatan dan yang lainnya, maupun nonfisik yang menyangkut peningkatan human development indeks masyarakat di daerah seperti tingkat pendidikan masyarakat, kesehatan dan kesejahteraannya.
Hasilnya dapat dijadikan sebagai bahan kajian untuk mengevaluasi out put dan out come, termasuk kualitas kinerja pemerintah daerah kabupaten dalam melaksanakan fungsi-fungsi pembangunan, pelayanan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Pemaknaan sistem monitoring dan evaluasi yang dilakukan, tidak ditempatkan sebagai upaya pengawasan yang parsial.Tetapi, merupakan proses kontinuitas dari perencanaan berkelanjutan. Untuk mengetahui dan mencermati tingkat efektivitas pelaksanaan pembangunan itu yang telah dilakukan.
Upaya reinventing governance sebagai pengembangan paradigma baru dalam sistem birorkasi pemerintahan. Menempatkan pemerintahan propinsi bukan sebagai atasan langsung kabupaten Sehingga membawa konsekuensi perubahan makna sistem pengawasan, yang dilakukan gubernur. Dari struktural ke pengawasan yang bersifat fungsional.
Namun untuk mendapatkan kriteria gubernur yang ideal bukanlah persoalan gampang. Dibutuhkan dukungan semua elemen masyarakat.
Apalagi sistem pemilihannya masih melalui mekanisme DPRD. Untuk itu perlu penguatan bagi lembaga ini sehingga dapat menyalurkan hati nurani rakyat. Untuk menghindari budaya korupsi dan kolusi yang tertanam dan berakar kuat dalam lembaga ini.
Belum lagi, faktor budaya yang menaungi masyarakat Sumatra Utara. Dimana kedekatan hubungan kekerabatan masih sangat kental. Pada runutannya dapat menghasilkan proses pemilihan yang didasarkan pada ‘nepotisme’. Kultur masyarakat yang demikian tentunya membutuhkan penyadaran. Sekaligus dapat mencegah munculnya pemahaman bahwa Gubernur harus orang Sumatra Utara asli. Sebaliknya, mengarahkan pandangan masyarakat menjadi Gubernur adalah orang yang dapat melihat dan mengembangkan potensi Sumatra Utara.
Jogja, 18 April 2003
Tak jauh dari persoalan pemimpin itu, sebentar lagi kapal yang bernama Sumatra Utara akan memilih nahkodanya (Gubernur). Melalui sebuah mekanisme– pemilihannya. Mengibaratkan Sumatra Utara sebagai sebuah kapal, memang ada perbedaan nyata dari masa sebelumnya. Sebelumnya kapal ini berlayar di samudra negara yang berbentuk sentralis--. Namun kedepan kapal ini akan berlayar mengarungi samudra otonomi.
Dimana alur birokrasi pusat - daerah berada pada daerah tingkat II, terjadi reduksi- terhadap peran pemerintah tingkat I. Prinsip utamanya, dalam otonomi daerah terjadi pelimpahan kewenangan pusat kepada daerah tingkat II, yang merupakan wilayah administratif. Gubernur hanya sebagai pemimpin tertinggi wilayah administrasi otonomi, bukan lagi menjadi pemimpin utama sebuah wilayah administratif. Misalnya kebijakan pembangunan akan lebih banyak berada di daerah tingkat II.
Melihat reduksi atas munculnya otonomi daerah ini, menuntut adanya perubahan paradigma dan visi kepemimpinan. Salah satu bangunan paradigma kedepan, gubernur menjadi penyelaras perjalanan pembangunan masyarakat. Keberadaan otonomi, menempatkan gubernur sebagai pemacu jalannya pembangunan oleh pemerintah kabupaten. Sehingga persoalan krusial yang sesungguhnya adalah perlunya penanganan lintas sektoral, melalui sistem koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan simplikasi baik yang bersifat horizontal di daerah masing-masing maupun vertikal dengan pemerintahan yang lebih atas, dapat teratasi.
Dengan kemampuan melihat dan membaca relaitas kawasan dan masyarakat Sumatra Utara. Mulai dari melihat potensi yang dimiliki Sumatra Utara. Sehingga konsep pembangunan yang ada tidak lagi membebankan rakyat. Karena bukan rahasia umum lagi bahwa konsep otonomi telah pula mengalami pereduksian makna. Kecendrungan ini pun sebenarnya disebabkan ketidakmampuan birokrasi pemerintah dalam menggali potensi yang ada. Akibatnya melihirkan kebijakan pembebanan pajak pada masyarakat.
Disisi lain, Gubernur selaku pimpinan daerah propinsi lebih menguatkan fungsi monitoringnya. Dengan melihat secara langsung berbagai program pembangunan utamanya yang bersumber dari dana-dana pembangunan propinsi dan pusat. Contohnya penggunaan pembangunan yang bersifat fisik seperti pembangunan gedung, kantor, jembatan dan yang lainnya, maupun nonfisik yang menyangkut peningkatan human development indeks masyarakat di daerah seperti tingkat pendidikan masyarakat, kesehatan dan kesejahteraannya.
Hasilnya dapat dijadikan sebagai bahan kajian untuk mengevaluasi out put dan out come, termasuk kualitas kinerja pemerintah daerah kabupaten dalam melaksanakan fungsi-fungsi pembangunan, pelayanan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Pemaknaan sistem monitoring dan evaluasi yang dilakukan, tidak ditempatkan sebagai upaya pengawasan yang parsial.Tetapi, merupakan proses kontinuitas dari perencanaan berkelanjutan. Untuk mengetahui dan mencermati tingkat efektivitas pelaksanaan pembangunan itu yang telah dilakukan.
Upaya reinventing governance sebagai pengembangan paradigma baru dalam sistem birorkasi pemerintahan. Menempatkan pemerintahan propinsi bukan sebagai atasan langsung kabupaten Sehingga membawa konsekuensi perubahan makna sistem pengawasan, yang dilakukan gubernur. Dari struktural ke pengawasan yang bersifat fungsional.
Namun untuk mendapatkan kriteria gubernur yang ideal bukanlah persoalan gampang. Dibutuhkan dukungan semua elemen masyarakat.
Apalagi sistem pemilihannya masih melalui mekanisme DPRD. Untuk itu perlu penguatan bagi lembaga ini sehingga dapat menyalurkan hati nurani rakyat. Untuk menghindari budaya korupsi dan kolusi yang tertanam dan berakar kuat dalam lembaga ini.
Belum lagi, faktor budaya yang menaungi masyarakat Sumatra Utara. Dimana kedekatan hubungan kekerabatan masih sangat kental. Pada runutannya dapat menghasilkan proses pemilihan yang didasarkan pada ‘nepotisme’. Kultur masyarakat yang demikian tentunya membutuhkan penyadaran. Sekaligus dapat mencegah munculnya pemahaman bahwa Gubernur harus orang Sumatra Utara asli. Sebaliknya, mengarahkan pandangan masyarakat menjadi Gubernur adalah orang yang dapat melihat dan mengembangkan potensi Sumatra Utara.
Jogja, 18 April 2003
Akupun Terkejut, PASTI!
Mereka bilang itu pilihan, tapi bagiku itu nekad
Demikianlah pengalaman mengajarkan sesuatu kepadaku ketika ber—ada di Pojok Pusgiwa yang begitu gila itu. Persoalan manusia menjadi pertaruhan dan perdebatan yang selalu ada di dalamnya. Bagaimana tidak, ruangan ini memang diproklamirkan sebagai pers, memakai embel Mahasiswa lagi. Hingga sebutannya pun pers Mahasiswa. Dua kata yang memiliki arti dan tanggungjawab besar. Kita kenal, tahu dan paham apa itu Mahasiswa, demikian juga kiranya pers.
Kedua kata itu, tidak semata mata menjadi klausa, tapi juga sekaligus menjadi frase. Lantas menagapa? Mungkin itulah pertanyaannya. Benar, setidaknya jika dipahami pengertian yang terdapat dalam kedua kata itu tentunya menjadi memiliki pengertian yang jauh lebih dalam dari pada kedua kata itu berdiri sendiri. Mahasiswa, lebih jelasnya dikatakan sebagai manusia intelektual, yang memang memiliki kemampuan membangun rakyat. Lebih progresifnya, adalah golongan kritis dan kreatif terhadap pembelaan rakyat.
Sementara pers memiliki pemahaman lebih pada wadah penyambung lidah (ke-kritis-an) dan juga media pembelaan hak rakyat yang tergilas oleh kekuasaan. Dua pengertia kata yang begitu mulia, itulah identitas kita kini. Tidak bisa tidak, kita menjadi bagian golongan abu - abu (mahasiswa) yang paling berat, setidaknya itu kata Pius.
Jogja, 20 Okt 2005
Demikianlah pengalaman mengajarkan sesuatu kepadaku ketika ber—ada di Pojok Pusgiwa yang begitu gila itu. Persoalan manusia menjadi pertaruhan dan perdebatan yang selalu ada di dalamnya. Bagaimana tidak, ruangan ini memang diproklamirkan sebagai pers, memakai embel Mahasiswa lagi. Hingga sebutannya pun pers Mahasiswa. Dua kata yang memiliki arti dan tanggungjawab besar. Kita kenal, tahu dan paham apa itu Mahasiswa, demikian juga kiranya pers.
Kedua kata itu, tidak semata mata menjadi klausa, tapi juga sekaligus menjadi frase. Lantas menagapa? Mungkin itulah pertanyaannya. Benar, setidaknya jika dipahami pengertian yang terdapat dalam kedua kata itu tentunya menjadi memiliki pengertian yang jauh lebih dalam dari pada kedua kata itu berdiri sendiri. Mahasiswa, lebih jelasnya dikatakan sebagai manusia intelektual, yang memang memiliki kemampuan membangun rakyat. Lebih progresifnya, adalah golongan kritis dan kreatif terhadap pembelaan rakyat.
Sementara pers memiliki pemahaman lebih pada wadah penyambung lidah (ke-kritis-an) dan juga media pembelaan hak rakyat yang tergilas oleh kekuasaan. Dua pengertia kata yang begitu mulia, itulah identitas kita kini. Tidak bisa tidak, kita menjadi bagian golongan abu - abu (mahasiswa) yang paling berat, setidaknya itu kata Pius.
Jogja, 20 Okt 2005
Memahami
Malam memang selalu menggambarkan , kesunyian, kesepian sampai pada ketakutan. Ini hari kedua aku setelah lulus dari bangku kuliah, dan menjadi satu orang yang berhak memakai title ST (baca sudah Tua ya….) barusan saja aku menuliskan apa yang kurasakan setelah ada orang yang bertanya tentang arti dan rasa sebuah kelulusan. Semuanya nol besar.. ternyata seorang yang lulus dan menjadi sarjana ternyata tak mampu memberikan jawaban yang memuaskan dirinya. Aku yakin, apalagi orang lain, pasti itu sungguh tak mungkin.
Dihari kedua ini selain itu yang muncul pertannyaan diatas, ada hal yang sama yang datang. Ini memang bukan dari luar, tetapi dari dalam diri. Apa yang kini kamu maknai hidup dan cinta. aku tak pernah mau bicara tentang yang satu ini. bagiku ini hanyalah sebuah perjalanan yang pasti dan harus dilalui setiap orang, sesuai dengan takdir. ya ini sedikit membingungkan,. Sebenarnya aku hanya percaya pada sebagian sisi takdir. Ya takdir bagiku hanya berlaku untuk dua hal, yaitu kelahiran dan kematian. Diluar itu Tuhan memberikan kita sebuah kebebasan, untuk mengisi hidup. Lantas tentunya bagaimana dengan cinta, dimana aku meletakkannya?
Aku belum pernah bisa meletakkan cinta dalam hidup secara final. Walaupun dari dua hal pendapatku tentang takdir, mau tak mau dapat disamakan dengan menempatkan cinta pada posisi diluar takdir. Sekali lagi ini inipun tak dapat kujawab dengan final, dimanakah aku telah dan harus menempatkannya ? Sungguh –sungguh pertannyaan yan g sulit. Kalo kamu membaca ini, berarti kamu siap memberikan jawaban, setidaknya yang sudah pasti menurutmu !
Salam teman.
Cerita pertama,02 Nov 2009
Dihari kedua ini selain itu yang muncul pertannyaan diatas, ada hal yang sama yang datang. Ini memang bukan dari luar, tetapi dari dalam diri. Apa yang kini kamu maknai hidup dan cinta. aku tak pernah mau bicara tentang yang satu ini. bagiku ini hanyalah sebuah perjalanan yang pasti dan harus dilalui setiap orang, sesuai dengan takdir. ya ini sedikit membingungkan,. Sebenarnya aku hanya percaya pada sebagian sisi takdir. Ya takdir bagiku hanya berlaku untuk dua hal, yaitu kelahiran dan kematian. Diluar itu Tuhan memberikan kita sebuah kebebasan, untuk mengisi hidup. Lantas tentunya bagaimana dengan cinta, dimana aku meletakkannya?
Aku belum pernah bisa meletakkan cinta dalam hidup secara final. Walaupun dari dua hal pendapatku tentang takdir, mau tak mau dapat disamakan dengan menempatkan cinta pada posisi diluar takdir. Sekali lagi ini inipun tak dapat kujawab dengan final, dimanakah aku telah dan harus menempatkannya ? Sungguh –sungguh pertannyaan yan g sulit. Kalo kamu membaca ini, berarti kamu siap memberikan jawaban, setidaknya yang sudah pasti menurutmu !
Salam teman.
Cerita pertama,02 Nov 2009
Kini Aku Ada Dimana.
Sekedar merasakan, melihat dan mencoba berbicara, setelah itu entah akan apa yang kulakukan?
“Selamat Datang Mahasiswa Baru” itulah bunyi Slogan yang cukup besar yang selalu di pampangkan hampir semua Universitas menyambut kedatangan mahasiswa baru, Maba. Tak ketinggalan UAJY pun turut menyapa mahasiswanya dengan spanduk yang sama dan tepat ditempelkan di pintu masuk uatama kampus III. Entahlah, mengapa sepintas aku memikirkan kata - kata itu. Apa karena kenangan empat tahun silam, kata yang sama menyambutku kala itu.
Memang kali ini agak berbeda, dulu rasa bangga dengan sambutan semacam itu. Apalagi ada bayangan bahwa kelak aku akan menjadi bagian dari sebuah komunitas akademik yang mampu memperjuangkan hati nurani rakyat. Bergabung dengan manusia yang mampu menumbangkan rezim angkara murka (baca: Suharto), setidaknya ada semangat semacam itu. Itu dulu, tiga tahun lalu!.
Kini tiga tahun lebih berada di UAJY, kampus yang cukup memiliki nama dalam jajaran perguruan tinggi, terutama Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Satu persatu mulai terlihat dan terasa jauh dari harapan. Tak banyak yang mau memiliki peran membangun sebuah komunitas impian itu, yang tinggal hanyalah generasi yang berkutat dengan impian pribadi.
Tak mengherankan jika, mahasiswa yang merupakan bagian terbesar ‘pengisi’ sebuah institusi pendidikan tinggi menelorkan karakter yang tak jauh adalah sama. Manusia yang mengisi ruang dan waktu, tak lebih hanya untuk diri sendiri. Datang kuliah pulang ke kamar kost dan mengharapkan nilai A alias istimewa. Setelah itu dapat melamar kerja dalam sebuah perusahaan atau intitusi yang memiliki pendapatan besar. Tak perlu tahu dan peduli akan nasib orang lain, diluar keluarga dan dirinya. Mau kelaparan, penyakitan, meringis atau sedih yang penting bukan Aku. Setelah itu, Kawin, anakku besok seperti itu lagi. Terus dan terus, itulah impian mereka kini, impian Poltak.
Akhirnya tak berbeda dengan apa yang di uangkapakan YB Mangunwijaya. Apa gunanya kita memiliki sekian ribu alumni sekolah yang cerdas, tetapi massa rakyat dibiarkan bodoh? Menjadi penjajah rakyat dengan modal kepintarannya.
Tak semua memang mahasiswa memiliki pandangan ataupun kemauan yang semacam itu. Banyak juga pada awal kedatangnya memiliki pandangan yang masih ‘tak terjamah’ kepentingan dan keinginan semacam itu. Mereka ingin tahu dan akhirnya memberikan sumbangan yang besar terhadap komunitas dan lingkungannya. Tapi mau apa lagi, institusi dengan berbagai kebijakannya memaksa mereka harus menjadi manusia yang individualis. Tak mau mengenal lingkungannya. Lihat saja betapa ketatnya aturan yang memaksa mahasiswa untuk bertingkah dan menjadi kost dan kampus sebagai tempat persinggahan untuk sekedar mendapatkan nilai A.
Padahal selain kemampuan dalam bidang akademik masih banyak peran lain yang ‘seharusnya’ di lakonkan mahasiswa. Perannya sebagai lokomotif perjuangan terhadap nasib rakyat. Itu merupakan bagian dari keberaniannya memakai label MAHA di depan kata siswanya. Sebab kini ia bukan lagi hanya manusia yang menuruti kebijakan ataupun tata aturan yang ada.
Tetapi juga mengambil bagian dalam memikirkan setiap kebijakan ataupun tata aturan dan mengkritisi setiap kebijakan yang ada. Kini ia menjadi salah satu motor penggerak demokrasi, bukan hanya orang yang ada untuk ikut serta berdemokrasi. Kini ia tidak hanya belajar tetapi juga mempertanyakan apa yang sedang dan ia pelajari. Kini ia pun harus mampu memberikan perannya terhadap lingkungannya. Ada yang bilang dan memang juga menjadi Agent of Change.
Sehingga seolah olah menjadi sangat sulit untuk mengelak dari pernyataan bahwa mahasiswa telah menjadi bagian dari kelas elit. Bahkan menjadi kalangan elit yang tak kenal satu sama lain. Jangankan kenal dan tahu dengan masyarakatnya, kenal dan tahu dengan lingkungan kampusnya saja mungkin hanya ada sedikit. Menempatkan diri pada strata tertentu yang sulit untuk dijamah. Sayangnya sulit untuk dijamah, tetapi mereka pun tak mau menjamah. Lihat saja betapa masyarakat mulai bosan dengan tindak tanduknya. Lihat saja, bagaimana mereka terasa sangat jauh dari masyarakatnya.
Kemana perginya pemahaman akan arti mahasiswa itu kini. Hilang ditelan apa. Kalau ditelan bumi bukankah bumi yang kita miliki hanya satu bumi yang menawarkan nafas kehidupan yang sedang kita pijak sekarang. Disebelah manakah dari bagian tubuhnya yang bulat ini, ia menempatkanya. Tapi apakah benar bumi dengan sengajanya memakan bagian dari dirinya yang sangat penting itu?
Atau jangan jangan ada planet lain yang datang menyerang dan mirip dengan bumi itu. Atau jangan jangan salah satu dari bagian tubuhnya telah ‘berzinah’. Kalau ‘bisa’ sedikit melihat bagian bumi yang paling dekat dengan mereka, institusi pendidikan. Jika diibaratkan ia menjadi ‘hati’ yang harus terus bekerja dan membersihkan darah ( mahasiswa sebagai out put) dan memprosesnya menjadi darah yang layak untuk mengisi ruang - ruang dalam tubuh(masyarakat).
Sayangnya kini selain tak mampu menghasilkan darah bersih, MAHAsiswa. Ia pun kini menjadi institusi yang mengkelaskan calon mahasiswa. Kemana Bumi ini akan dibawa, ruang dan waktunya masih mungkin. Tapi entah sampai kapan, kamu sekarang mau menempatkan dirimu menjadi apa dan siapa? Salam sobat dan selamat berjuang. Lupa selamat datang juga.
“Selamat Datang Mahasiswa Baru” itulah bunyi Slogan yang cukup besar yang selalu di pampangkan hampir semua Universitas menyambut kedatangan mahasiswa baru, Maba. Tak ketinggalan UAJY pun turut menyapa mahasiswanya dengan spanduk yang sama dan tepat ditempelkan di pintu masuk uatama kampus III. Entahlah, mengapa sepintas aku memikirkan kata - kata itu. Apa karena kenangan empat tahun silam, kata yang sama menyambutku kala itu.
Memang kali ini agak berbeda, dulu rasa bangga dengan sambutan semacam itu. Apalagi ada bayangan bahwa kelak aku akan menjadi bagian dari sebuah komunitas akademik yang mampu memperjuangkan hati nurani rakyat. Bergabung dengan manusia yang mampu menumbangkan rezim angkara murka (baca: Suharto), setidaknya ada semangat semacam itu. Itu dulu, tiga tahun lalu!.
Kini tiga tahun lebih berada di UAJY, kampus yang cukup memiliki nama dalam jajaran perguruan tinggi, terutama Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Satu persatu mulai terlihat dan terasa jauh dari harapan. Tak banyak yang mau memiliki peran membangun sebuah komunitas impian itu, yang tinggal hanyalah generasi yang berkutat dengan impian pribadi.
Tak mengherankan jika, mahasiswa yang merupakan bagian terbesar ‘pengisi’ sebuah institusi pendidikan tinggi menelorkan karakter yang tak jauh adalah sama. Manusia yang mengisi ruang dan waktu, tak lebih hanya untuk diri sendiri. Datang kuliah pulang ke kamar kost dan mengharapkan nilai A alias istimewa. Setelah itu dapat melamar kerja dalam sebuah perusahaan atau intitusi yang memiliki pendapatan besar. Tak perlu tahu dan peduli akan nasib orang lain, diluar keluarga dan dirinya. Mau kelaparan, penyakitan, meringis atau sedih yang penting bukan Aku. Setelah itu, Kawin, anakku besok seperti itu lagi. Terus dan terus, itulah impian mereka kini, impian Poltak.
Akhirnya tak berbeda dengan apa yang di uangkapakan YB Mangunwijaya. Apa gunanya kita memiliki sekian ribu alumni sekolah yang cerdas, tetapi massa rakyat dibiarkan bodoh? Menjadi penjajah rakyat dengan modal kepintarannya.
Tak semua memang mahasiswa memiliki pandangan ataupun kemauan yang semacam itu. Banyak juga pada awal kedatangnya memiliki pandangan yang masih ‘tak terjamah’ kepentingan dan keinginan semacam itu. Mereka ingin tahu dan akhirnya memberikan sumbangan yang besar terhadap komunitas dan lingkungannya. Tapi mau apa lagi, institusi dengan berbagai kebijakannya memaksa mereka harus menjadi manusia yang individualis. Tak mau mengenal lingkungannya. Lihat saja betapa ketatnya aturan yang memaksa mahasiswa untuk bertingkah dan menjadi kost dan kampus sebagai tempat persinggahan untuk sekedar mendapatkan nilai A.
Padahal selain kemampuan dalam bidang akademik masih banyak peran lain yang ‘seharusnya’ di lakonkan mahasiswa. Perannya sebagai lokomotif perjuangan terhadap nasib rakyat. Itu merupakan bagian dari keberaniannya memakai label MAHA di depan kata siswanya. Sebab kini ia bukan lagi hanya manusia yang menuruti kebijakan ataupun tata aturan yang ada.
Tetapi juga mengambil bagian dalam memikirkan setiap kebijakan ataupun tata aturan dan mengkritisi setiap kebijakan yang ada. Kini ia menjadi salah satu motor penggerak demokrasi, bukan hanya orang yang ada untuk ikut serta berdemokrasi. Kini ia tidak hanya belajar tetapi juga mempertanyakan apa yang sedang dan ia pelajari. Kini ia pun harus mampu memberikan perannya terhadap lingkungannya. Ada yang bilang dan memang juga menjadi Agent of Change.
Sehingga seolah olah menjadi sangat sulit untuk mengelak dari pernyataan bahwa mahasiswa telah menjadi bagian dari kelas elit. Bahkan menjadi kalangan elit yang tak kenal satu sama lain. Jangankan kenal dan tahu dengan masyarakatnya, kenal dan tahu dengan lingkungan kampusnya saja mungkin hanya ada sedikit. Menempatkan diri pada strata tertentu yang sulit untuk dijamah. Sayangnya sulit untuk dijamah, tetapi mereka pun tak mau menjamah. Lihat saja betapa masyarakat mulai bosan dengan tindak tanduknya. Lihat saja, bagaimana mereka terasa sangat jauh dari masyarakatnya.
Kemana perginya pemahaman akan arti mahasiswa itu kini. Hilang ditelan apa. Kalau ditelan bumi bukankah bumi yang kita miliki hanya satu bumi yang menawarkan nafas kehidupan yang sedang kita pijak sekarang. Disebelah manakah dari bagian tubuhnya yang bulat ini, ia menempatkanya. Tapi apakah benar bumi dengan sengajanya memakan bagian dari dirinya yang sangat penting itu?
Atau jangan jangan ada planet lain yang datang menyerang dan mirip dengan bumi itu. Atau jangan jangan salah satu dari bagian tubuhnya telah ‘berzinah’. Kalau ‘bisa’ sedikit melihat bagian bumi yang paling dekat dengan mereka, institusi pendidikan. Jika diibaratkan ia menjadi ‘hati’ yang harus terus bekerja dan membersihkan darah ( mahasiswa sebagai out put) dan memprosesnya menjadi darah yang layak untuk mengisi ruang - ruang dalam tubuh(masyarakat).
Sayangnya kini selain tak mampu menghasilkan darah bersih, MAHAsiswa. Ia pun kini menjadi institusi yang mengkelaskan calon mahasiswa. Kemana Bumi ini akan dibawa, ruang dan waktunya masih mungkin. Tapi entah sampai kapan, kamu sekarang mau menempatkan dirimu menjadi apa dan siapa? Salam sobat dan selamat berjuang. Lupa selamat datang juga.
Bagiku yang berada Di Negri Suram
Negeri itu tak menyanyi lagi. Lagu dengan suara kegembiraan dengan hentakan nada nada kekohan sebuah bangsa berubah menjadi tangis. Ya, kini dia sedang menangis, meratapi semua yang terjadi. Ia kini hanya mampu melihat kehampaan dan kelunglayan akibat ketidakmampuan. Bagaimana tidak harta yang dulu dibanggakan, hanya tinggal utang dan keterpurukan disegala bidang. Anak kecil tak mampu sekolah akibat kemiskinan. Perempuan melahirkan ditepian jalanan. Sementara keangkaramurkaan menjadi simbol kehidupan yang tertonjolkan. Nasibnya kini.....
Menagis, memang demikian adanya. Tetapi ini hanyalah ratapan rakyat, bukan mereka yang duduk kongkang kaki di teras gedung mewah sana. Gambarannya memang aneh, sementara rakyat hidup dalam penderitaan akibat ketidak mapuan menjalani hidup akibat beratnya tekanan kemiskinan, ada saja sebagian manusia disana yang dapat hidup tenang dengan kaki yang mengongkang.
Mereka tak tahu, apa yang dimilikinya pun adalah bagian dari milik bersama yang harusnya dibagikan. Kenapa, karena kita adalah satu bangsa, satu tanah air dan juga memiliki Tuhan yang sama. Sisi sisi kemanusian, yang harusnya melekat pada diri, sebagi manusia telah hilang di telan peradaban yang dinamai keangkaramurkaan.
Tak ada yang beres dalam kehidupan bangsa ini kini. Pantaslah dia menangis. Nilai hakiki yang harusnya melekat pada”manusia”. Seakan akan berubah menjadi senajta masal yang setiap saat siap memangsa manusia lain. Hidup butuh ketenagan, kesenagan, adalah semboyan hidup bagianya sekarang.
Nilai nilai yang dilekatkan sang kuasa, sudah dibalikkan menjadi senjata penghacur. Menghisap darah manusia lain untuk menghidupinya tujuh puluh tujuh kali tujuh abad kedepan. Apa yang harusnya kumiliki kini. Sementara yang lain demikian adanya. Kenapa Aku tentunya menjadi pertannyaan yang sangat sulit.
Salah, Tidak juga. Walaupun paling sulit adalah menterjemahkan, dan menyadari pribadi. Tapi Sebaliknya juga, itu pulalah yang paling gampang dilakukan. Kemauan, menjadi alasan dibalik semuanya kini. Terus?
Ya aku kini berada disini. Menjadi bagian dari manusia yang turut meratapi hidup. Akibat sesuatu yang tak kumengerti sama sekali. Aku kini hidup di disebuah jerami yang didalamnya terdapat manusia yang sanma denganku. Meratapi!
Bagaimana kawan. Kita akan melakukan apa. Apa yang terjadi sekarang, akan menjadi refleksi kita bersama untuk melakukan sesuatu kedepan. Mau tidak mau memang kita harus menagmbil peran wal;aupun terasa sulit. Sesulit menanyakan dan menayadari dosa paling besar yang pernah kita lakukan. Pilihan kini menjadi berat? Karena kita berada disini.
Salam PASTI
Menagis, memang demikian adanya. Tetapi ini hanyalah ratapan rakyat, bukan mereka yang duduk kongkang kaki di teras gedung mewah sana. Gambarannya memang aneh, sementara rakyat hidup dalam penderitaan akibat ketidak mapuan menjalani hidup akibat beratnya tekanan kemiskinan, ada saja sebagian manusia disana yang dapat hidup tenang dengan kaki yang mengongkang.
Mereka tak tahu, apa yang dimilikinya pun adalah bagian dari milik bersama yang harusnya dibagikan. Kenapa, karena kita adalah satu bangsa, satu tanah air dan juga memiliki Tuhan yang sama. Sisi sisi kemanusian, yang harusnya melekat pada diri, sebagi manusia telah hilang di telan peradaban yang dinamai keangkaramurkaan.
Tak ada yang beres dalam kehidupan bangsa ini kini. Pantaslah dia menangis. Nilai hakiki yang harusnya melekat pada”manusia”. Seakan akan berubah menjadi senajta masal yang setiap saat siap memangsa manusia lain. Hidup butuh ketenagan, kesenagan, adalah semboyan hidup bagianya sekarang.
Nilai nilai yang dilekatkan sang kuasa, sudah dibalikkan menjadi senjata penghacur. Menghisap darah manusia lain untuk menghidupinya tujuh puluh tujuh kali tujuh abad kedepan. Apa yang harusnya kumiliki kini. Sementara yang lain demikian adanya. Kenapa Aku tentunya menjadi pertannyaan yang sangat sulit.
Salah, Tidak juga. Walaupun paling sulit adalah menterjemahkan, dan menyadari pribadi. Tapi Sebaliknya juga, itu pulalah yang paling gampang dilakukan. Kemauan, menjadi alasan dibalik semuanya kini. Terus?
Ya aku kini berada disini. Menjadi bagian dari manusia yang turut meratapi hidup. Akibat sesuatu yang tak kumengerti sama sekali. Aku kini hidup di disebuah jerami yang didalamnya terdapat manusia yang sanma denganku. Meratapi!
Bagaimana kawan. Kita akan melakukan apa. Apa yang terjadi sekarang, akan menjadi refleksi kita bersama untuk melakukan sesuatu kedepan. Mau tidak mau memang kita harus menagmbil peran wal;aupun terasa sulit. Sesulit menanyakan dan menayadari dosa paling besar yang pernah kita lakukan. Pilihan kini menjadi berat? Karena kita berada disini.
Salam PASTI
Menatap Langit
Sobat apa kesedihan paling dalam yang pernah kamu alami. Apakah seseorang yang mati, pergi meninggalkanmu menuju alam berikutnya. Ataukah kepergian sesorang dari dekatmu? Kepergian dari segala sesuatu yang pernah dibangun bersama? Pernahkah kamu teringat apa yang terjadi pada bangsa ini sejak dulu. Masih kah kamu ingat ketika seorang bapak tua merangkak minta ampun kepada seorang penjajah atas perlakuan tak senonoh terhadap putrinya. Itu, hanyalah salah satu dari sesuatu yang menjadi landasan kebersamaan membangun bangsa ini. Sesuatu, perlawanan atas ketidakadilaan dan keserkahan atas muka bumi.
Senjata sepertinya tiba tiba meledak menghempas kepala. Ia pun jatuh tersungkur ketanah. Aduh ampun, kata terakhir yang hanya pengobat rasa sakit. Sakit atas segalanya.
Kini kita telah besar. Kini kita telah merdeka dan sudah melewati pasca reformasi. Pada akhirnya, semua menagajak manusia dalam bumi pertiwi ini bertanya pada dirinya akan arti merdeka hidup dan kehidupan.
Kamu tahu kenapa aku bertanya demikian. Jelas, ini kulakukan karena aku tak melihat perbedaan, antara masa lalu dan masa kini. Dulu bangsaku hidup dalam tekanan keangkaramurkaan bangsa lain. Kini bagsa ini tertekan oleh dirinya sendiri. Dimana rama dan rahwana berada dalam satu tubuh. Pergolakan dalam satu ring memang menjadi tontonan yang mengasikkan bagi sebagian orang. Sayang kita sering tak tahu kalau kita segaja dijual untuk dipertontonkan. Sebuah keuntungan besar bagi mereka. Ini hanya refleksi ngawur tapi nyata, dulu dan sekarang.
Bagaimana kalau kita bicara dalam frame yang lebih kecil. Namun tak menghilangkan sudut kekompleksan persoalan yang sama. Kamu hidup dimana, seberapa besar. Bagi yang baca ini, mungkin aku bisa tarik batas kecil yang jelas yang menjelaskan keberadaan kita yang sama Kita berada dalam kawasan pusgiwa nan murka akan jalannya kehidupan. Kalaulah memang tak semua demikian adanya. Mari kita sempitkan frame, biar kita bisa melihat lebih jelas, telangjang bulat. Tak ada yang perlu kusembunyikan darimu, dari dunia yang sangat kecil ini. Kita selalu berbicara betapa sesaknya dunia sana. Dunia yang penuh dengan kebengisan, keserakahan dan penghianatan.
Jogja 20 Sept 2009, Saat Menghilang
Senjata sepertinya tiba tiba meledak menghempas kepala. Ia pun jatuh tersungkur ketanah. Aduh ampun, kata terakhir yang hanya pengobat rasa sakit. Sakit atas segalanya.
Kini kita telah besar. Kini kita telah merdeka dan sudah melewati pasca reformasi. Pada akhirnya, semua menagajak manusia dalam bumi pertiwi ini bertanya pada dirinya akan arti merdeka hidup dan kehidupan.
Kamu tahu kenapa aku bertanya demikian. Jelas, ini kulakukan karena aku tak melihat perbedaan, antara masa lalu dan masa kini. Dulu bangsaku hidup dalam tekanan keangkaramurkaan bangsa lain. Kini bagsa ini tertekan oleh dirinya sendiri. Dimana rama dan rahwana berada dalam satu tubuh. Pergolakan dalam satu ring memang menjadi tontonan yang mengasikkan bagi sebagian orang. Sayang kita sering tak tahu kalau kita segaja dijual untuk dipertontonkan. Sebuah keuntungan besar bagi mereka. Ini hanya refleksi ngawur tapi nyata, dulu dan sekarang.
Bagaimana kalau kita bicara dalam frame yang lebih kecil. Namun tak menghilangkan sudut kekompleksan persoalan yang sama. Kamu hidup dimana, seberapa besar. Bagi yang baca ini, mungkin aku bisa tarik batas kecil yang jelas yang menjelaskan keberadaan kita yang sama Kita berada dalam kawasan pusgiwa nan murka akan jalannya kehidupan. Kalaulah memang tak semua demikian adanya. Mari kita sempitkan frame, biar kita bisa melihat lebih jelas, telangjang bulat. Tak ada yang perlu kusembunyikan darimu, dari dunia yang sangat kecil ini. Kita selalu berbicara betapa sesaknya dunia sana. Dunia yang penuh dengan kebengisan, keserakahan dan penghianatan.
Jogja 20 Sept 2009, Saat Menghilang
Langganan:
Postingan (Atom)