Sekedar merasakan, melihat dan mencoba berbicara, setelah itu entah akan apa yang kulakukan?
“Selamat Datang Mahasiswa Baru” itulah bunyi Slogan yang cukup besar yang selalu di pampangkan hampir semua Universitas menyambut kedatangan mahasiswa baru, Maba. Tak ketinggalan UAJY pun turut menyapa mahasiswanya dengan spanduk yang sama dan tepat ditempelkan di pintu masuk uatama kampus III. Entahlah, mengapa sepintas aku memikirkan kata - kata itu. Apa karena kenangan empat tahun silam, kata yang sama menyambutku kala itu.
Memang kali ini agak berbeda, dulu rasa bangga dengan sambutan semacam itu. Apalagi ada bayangan bahwa kelak aku akan menjadi bagian dari sebuah komunitas akademik yang mampu memperjuangkan hati nurani rakyat. Bergabung dengan manusia yang mampu menumbangkan rezim angkara murka (baca: Suharto), setidaknya ada semangat semacam itu. Itu dulu, tiga tahun lalu!.
Kini tiga tahun lebih berada di UAJY, kampus yang cukup memiliki nama dalam jajaran perguruan tinggi, terutama Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Satu persatu mulai terlihat dan terasa jauh dari harapan. Tak banyak yang mau memiliki peran membangun sebuah komunitas impian itu, yang tinggal hanyalah generasi yang berkutat dengan impian pribadi.
Tak mengherankan jika, mahasiswa yang merupakan bagian terbesar ‘pengisi’ sebuah institusi pendidikan tinggi menelorkan karakter yang tak jauh adalah sama. Manusia yang mengisi ruang dan waktu, tak lebih hanya untuk diri sendiri. Datang kuliah pulang ke kamar kost dan mengharapkan nilai A alias istimewa. Setelah itu dapat melamar kerja dalam sebuah perusahaan atau intitusi yang memiliki pendapatan besar. Tak perlu tahu dan peduli akan nasib orang lain, diluar keluarga dan dirinya. Mau kelaparan, penyakitan, meringis atau sedih yang penting bukan Aku. Setelah itu, Kawin, anakku besok seperti itu lagi. Terus dan terus, itulah impian mereka kini, impian Poltak.
Akhirnya tak berbeda dengan apa yang di uangkapakan YB Mangunwijaya. Apa gunanya kita memiliki sekian ribu alumni sekolah yang cerdas, tetapi massa rakyat dibiarkan bodoh? Menjadi penjajah rakyat dengan modal kepintarannya.
Tak semua memang mahasiswa memiliki pandangan ataupun kemauan yang semacam itu. Banyak juga pada awal kedatangnya memiliki pandangan yang masih ‘tak terjamah’ kepentingan dan keinginan semacam itu. Mereka ingin tahu dan akhirnya memberikan sumbangan yang besar terhadap komunitas dan lingkungannya. Tapi mau apa lagi, institusi dengan berbagai kebijakannya memaksa mereka harus menjadi manusia yang individualis. Tak mau mengenal lingkungannya. Lihat saja betapa ketatnya aturan yang memaksa mahasiswa untuk bertingkah dan menjadi kost dan kampus sebagai tempat persinggahan untuk sekedar mendapatkan nilai A.
Padahal selain kemampuan dalam bidang akademik masih banyak peran lain yang ‘seharusnya’ di lakonkan mahasiswa. Perannya sebagai lokomotif perjuangan terhadap nasib rakyat. Itu merupakan bagian dari keberaniannya memakai label MAHA di depan kata siswanya. Sebab kini ia bukan lagi hanya manusia yang menuruti kebijakan ataupun tata aturan yang ada.
Tetapi juga mengambil bagian dalam memikirkan setiap kebijakan ataupun tata aturan dan mengkritisi setiap kebijakan yang ada. Kini ia menjadi salah satu motor penggerak demokrasi, bukan hanya orang yang ada untuk ikut serta berdemokrasi. Kini ia tidak hanya belajar tetapi juga mempertanyakan apa yang sedang dan ia pelajari. Kini ia pun harus mampu memberikan perannya terhadap lingkungannya. Ada yang bilang dan memang juga menjadi Agent of Change.
Sehingga seolah olah menjadi sangat sulit untuk mengelak dari pernyataan bahwa mahasiswa telah menjadi bagian dari kelas elit. Bahkan menjadi kalangan elit yang tak kenal satu sama lain. Jangankan kenal dan tahu dengan masyarakatnya, kenal dan tahu dengan lingkungan kampusnya saja mungkin hanya ada sedikit. Menempatkan diri pada strata tertentu yang sulit untuk dijamah. Sayangnya sulit untuk dijamah, tetapi mereka pun tak mau menjamah. Lihat saja betapa masyarakat mulai bosan dengan tindak tanduknya. Lihat saja, bagaimana mereka terasa sangat jauh dari masyarakatnya.
Kemana perginya pemahaman akan arti mahasiswa itu kini. Hilang ditelan apa. Kalau ditelan bumi bukankah bumi yang kita miliki hanya satu bumi yang menawarkan nafas kehidupan yang sedang kita pijak sekarang. Disebelah manakah dari bagian tubuhnya yang bulat ini, ia menempatkanya. Tapi apakah benar bumi dengan sengajanya memakan bagian dari dirinya yang sangat penting itu?
Atau jangan jangan ada planet lain yang datang menyerang dan mirip dengan bumi itu. Atau jangan jangan salah satu dari bagian tubuhnya telah ‘berzinah’. Kalau ‘bisa’ sedikit melihat bagian bumi yang paling dekat dengan mereka, institusi pendidikan. Jika diibaratkan ia menjadi ‘hati’ yang harus terus bekerja dan membersihkan darah ( mahasiswa sebagai out put) dan memprosesnya menjadi darah yang layak untuk mengisi ruang - ruang dalam tubuh(masyarakat).
Sayangnya kini selain tak mampu menghasilkan darah bersih, MAHAsiswa. Ia pun kini menjadi institusi yang mengkelaskan calon mahasiswa. Kemana Bumi ini akan dibawa, ruang dan waktunya masih mungkin. Tapi entah sampai kapan, kamu sekarang mau menempatkan dirimu menjadi apa dan siapa? Salam sobat dan selamat berjuang. Lupa selamat datang juga.
Mencoba bersentuhan lebih dekat, lebih terbuka dalam segala bentuk ruang dan waktu
30 September, 2009
Bagiku yang berada Di Negri Suram
Negeri itu tak menyanyi lagi. Lagu dengan suara kegembiraan dengan hentakan nada nada kekohan sebuah bangsa berubah menjadi tangis. Ya, kini dia sedang menangis, meratapi semua yang terjadi. Ia kini hanya mampu melihat kehampaan dan kelunglayan akibat ketidakmampuan. Bagaimana tidak harta yang dulu dibanggakan, hanya tinggal utang dan keterpurukan disegala bidang. Anak kecil tak mampu sekolah akibat kemiskinan. Perempuan melahirkan ditepian jalanan. Sementara keangkaramurkaan menjadi simbol kehidupan yang tertonjolkan. Nasibnya kini.....
Menagis, memang demikian adanya. Tetapi ini hanyalah ratapan rakyat, bukan mereka yang duduk kongkang kaki di teras gedung mewah sana. Gambarannya memang aneh, sementara rakyat hidup dalam penderitaan akibat ketidak mapuan menjalani hidup akibat beratnya tekanan kemiskinan, ada saja sebagian manusia disana yang dapat hidup tenang dengan kaki yang mengongkang.
Mereka tak tahu, apa yang dimilikinya pun adalah bagian dari milik bersama yang harusnya dibagikan. Kenapa, karena kita adalah satu bangsa, satu tanah air dan juga memiliki Tuhan yang sama. Sisi sisi kemanusian, yang harusnya melekat pada diri, sebagi manusia telah hilang di telan peradaban yang dinamai keangkaramurkaan.
Tak ada yang beres dalam kehidupan bangsa ini kini. Pantaslah dia menangis. Nilai hakiki yang harusnya melekat pada”manusia”. Seakan akan berubah menjadi senajta masal yang setiap saat siap memangsa manusia lain. Hidup butuh ketenagan, kesenagan, adalah semboyan hidup bagianya sekarang.
Nilai nilai yang dilekatkan sang kuasa, sudah dibalikkan menjadi senjata penghacur. Menghisap darah manusia lain untuk menghidupinya tujuh puluh tujuh kali tujuh abad kedepan. Apa yang harusnya kumiliki kini. Sementara yang lain demikian adanya. Kenapa Aku tentunya menjadi pertannyaan yang sangat sulit.
Salah, Tidak juga. Walaupun paling sulit adalah menterjemahkan, dan menyadari pribadi. Tapi Sebaliknya juga, itu pulalah yang paling gampang dilakukan. Kemauan, menjadi alasan dibalik semuanya kini. Terus?
Ya aku kini berada disini. Menjadi bagian dari manusia yang turut meratapi hidup. Akibat sesuatu yang tak kumengerti sama sekali. Aku kini hidup di disebuah jerami yang didalamnya terdapat manusia yang sanma denganku. Meratapi!
Bagaimana kawan. Kita akan melakukan apa. Apa yang terjadi sekarang, akan menjadi refleksi kita bersama untuk melakukan sesuatu kedepan. Mau tidak mau memang kita harus menagmbil peran wal;aupun terasa sulit. Sesulit menanyakan dan menayadari dosa paling besar yang pernah kita lakukan. Pilihan kini menjadi berat? Karena kita berada disini.
Salam PASTI
Menagis, memang demikian adanya. Tetapi ini hanyalah ratapan rakyat, bukan mereka yang duduk kongkang kaki di teras gedung mewah sana. Gambarannya memang aneh, sementara rakyat hidup dalam penderitaan akibat ketidak mapuan menjalani hidup akibat beratnya tekanan kemiskinan, ada saja sebagian manusia disana yang dapat hidup tenang dengan kaki yang mengongkang.
Mereka tak tahu, apa yang dimilikinya pun adalah bagian dari milik bersama yang harusnya dibagikan. Kenapa, karena kita adalah satu bangsa, satu tanah air dan juga memiliki Tuhan yang sama. Sisi sisi kemanusian, yang harusnya melekat pada diri, sebagi manusia telah hilang di telan peradaban yang dinamai keangkaramurkaan.
Tak ada yang beres dalam kehidupan bangsa ini kini. Pantaslah dia menangis. Nilai hakiki yang harusnya melekat pada”manusia”. Seakan akan berubah menjadi senajta masal yang setiap saat siap memangsa manusia lain. Hidup butuh ketenagan, kesenagan, adalah semboyan hidup bagianya sekarang.
Nilai nilai yang dilekatkan sang kuasa, sudah dibalikkan menjadi senjata penghacur. Menghisap darah manusia lain untuk menghidupinya tujuh puluh tujuh kali tujuh abad kedepan. Apa yang harusnya kumiliki kini. Sementara yang lain demikian adanya. Kenapa Aku tentunya menjadi pertannyaan yang sangat sulit.
Salah, Tidak juga. Walaupun paling sulit adalah menterjemahkan, dan menyadari pribadi. Tapi Sebaliknya juga, itu pulalah yang paling gampang dilakukan. Kemauan, menjadi alasan dibalik semuanya kini. Terus?
Ya aku kini berada disini. Menjadi bagian dari manusia yang turut meratapi hidup. Akibat sesuatu yang tak kumengerti sama sekali. Aku kini hidup di disebuah jerami yang didalamnya terdapat manusia yang sanma denganku. Meratapi!
Bagaimana kawan. Kita akan melakukan apa. Apa yang terjadi sekarang, akan menjadi refleksi kita bersama untuk melakukan sesuatu kedepan. Mau tidak mau memang kita harus menagmbil peran wal;aupun terasa sulit. Sesulit menanyakan dan menayadari dosa paling besar yang pernah kita lakukan. Pilihan kini menjadi berat? Karena kita berada disini.
Salam PASTI
Menatap Langit
Sobat apa kesedihan paling dalam yang pernah kamu alami. Apakah seseorang yang mati, pergi meninggalkanmu menuju alam berikutnya. Ataukah kepergian sesorang dari dekatmu? Kepergian dari segala sesuatu yang pernah dibangun bersama? Pernahkah kamu teringat apa yang terjadi pada bangsa ini sejak dulu. Masih kah kamu ingat ketika seorang bapak tua merangkak minta ampun kepada seorang penjajah atas perlakuan tak senonoh terhadap putrinya. Itu, hanyalah salah satu dari sesuatu yang menjadi landasan kebersamaan membangun bangsa ini. Sesuatu, perlawanan atas ketidakadilaan dan keserkahan atas muka bumi.
Senjata sepertinya tiba tiba meledak menghempas kepala. Ia pun jatuh tersungkur ketanah. Aduh ampun, kata terakhir yang hanya pengobat rasa sakit. Sakit atas segalanya.
Kini kita telah besar. Kini kita telah merdeka dan sudah melewati pasca reformasi. Pada akhirnya, semua menagajak manusia dalam bumi pertiwi ini bertanya pada dirinya akan arti merdeka hidup dan kehidupan.
Kamu tahu kenapa aku bertanya demikian. Jelas, ini kulakukan karena aku tak melihat perbedaan, antara masa lalu dan masa kini. Dulu bangsaku hidup dalam tekanan keangkaramurkaan bangsa lain. Kini bagsa ini tertekan oleh dirinya sendiri. Dimana rama dan rahwana berada dalam satu tubuh. Pergolakan dalam satu ring memang menjadi tontonan yang mengasikkan bagi sebagian orang. Sayang kita sering tak tahu kalau kita segaja dijual untuk dipertontonkan. Sebuah keuntungan besar bagi mereka. Ini hanya refleksi ngawur tapi nyata, dulu dan sekarang.
Bagaimana kalau kita bicara dalam frame yang lebih kecil. Namun tak menghilangkan sudut kekompleksan persoalan yang sama. Kamu hidup dimana, seberapa besar. Bagi yang baca ini, mungkin aku bisa tarik batas kecil yang jelas yang menjelaskan keberadaan kita yang sama Kita berada dalam kawasan pusgiwa nan murka akan jalannya kehidupan. Kalaulah memang tak semua demikian adanya. Mari kita sempitkan frame, biar kita bisa melihat lebih jelas, telangjang bulat. Tak ada yang perlu kusembunyikan darimu, dari dunia yang sangat kecil ini. Kita selalu berbicara betapa sesaknya dunia sana. Dunia yang penuh dengan kebengisan, keserakahan dan penghianatan.
Jogja 20 Sept 2009, Saat Menghilang
Senjata sepertinya tiba tiba meledak menghempas kepala. Ia pun jatuh tersungkur ketanah. Aduh ampun, kata terakhir yang hanya pengobat rasa sakit. Sakit atas segalanya.
Kini kita telah besar. Kini kita telah merdeka dan sudah melewati pasca reformasi. Pada akhirnya, semua menagajak manusia dalam bumi pertiwi ini bertanya pada dirinya akan arti merdeka hidup dan kehidupan.
Kamu tahu kenapa aku bertanya demikian. Jelas, ini kulakukan karena aku tak melihat perbedaan, antara masa lalu dan masa kini. Dulu bangsaku hidup dalam tekanan keangkaramurkaan bangsa lain. Kini bagsa ini tertekan oleh dirinya sendiri. Dimana rama dan rahwana berada dalam satu tubuh. Pergolakan dalam satu ring memang menjadi tontonan yang mengasikkan bagi sebagian orang. Sayang kita sering tak tahu kalau kita segaja dijual untuk dipertontonkan. Sebuah keuntungan besar bagi mereka. Ini hanya refleksi ngawur tapi nyata, dulu dan sekarang.
Bagaimana kalau kita bicara dalam frame yang lebih kecil. Namun tak menghilangkan sudut kekompleksan persoalan yang sama. Kamu hidup dimana, seberapa besar. Bagi yang baca ini, mungkin aku bisa tarik batas kecil yang jelas yang menjelaskan keberadaan kita yang sama Kita berada dalam kawasan pusgiwa nan murka akan jalannya kehidupan. Kalaulah memang tak semua demikian adanya. Mari kita sempitkan frame, biar kita bisa melihat lebih jelas, telangjang bulat. Tak ada yang perlu kusembunyikan darimu, dari dunia yang sangat kecil ini. Kita selalu berbicara betapa sesaknya dunia sana. Dunia yang penuh dengan kebengisan, keserakahan dan penghianatan.
Jogja 20 Sept 2009, Saat Menghilang
Maluku Miskin ,Maluku Sayang
Miskin maka kelaparan atau kelaparan makanya miskin? Entah, tapi demikian yang selalu terjadi. Di negeri ini jika topik pertanyaan mengenai yang tak mengenakkan akan sangat sulit dijawab mana sebab mana akibat. Kalau ditannya pada yang seharusnya mengurusi hal miskin dan kelaparan, sepertinya jawabannya ya kelaparan dulu baru miskin. Memang bagi pemerintah, kemiskinan sering baru tampak jika ada pertunjukan kelaparan dengan tokoh utama mereka yang busung lapar. Setelah itu baru tampak kalau rakyatnya telah melarat.
Beda dengan Wa Amra warga Maluku yang punya anak busung lapar itu (Rumah dan Bilik Pengungsian, Kompas 29 juni 2005 hal 36). Kalau ditanya yakin jawabannya pasti yang pertama, miskin maka kelaparan. Itulah sebabnya Wa Amra tidak lagi begitu mengeluh dan berputus asa, karena kelaparan yang dia alami hanyalah akumulasi dari sekian lama miskin dan akhirnya tak mampu lagi memenuhi kebutuhan perutnya. Dan akhirnya busng lapar. Pertanyaan diatas menjadi bagian dari keseharian yang selalu terjadi disekitar kita.
Harus kelaparan dulu baru tau kalo rakyatnya miskin.
Maluku dikenal kaya akan alamnya kini hanya mampu menampilkan pertujukan kemiskinan dan konflik. Tetapi menilik kondisi negeri yang katanya kaya dan budaya kekerabatan masyarakat yang begitu kuat. Sungguh sangat sulit membayang masalah kemiskinan dan konflik muncul. Lihat saja, Maluku sejak dulu dikenal sebagai tambang kekayaan akan rempah – rempah. Bahkan Spanyol dan Portrugis harus mengangkat senjata demi perebutan kekuasaan akan kekayaan ini. Secara kekerabatan, wilayah ini bahkan sangat dikenal dengan budaya gotong royong, pela gandong-nya. Warganya begitu toleran terhadap sesama. Namun semua ini serasa hilang ditelan waktu. Kini yang tampak adalah wajah manusia miskin yang sarat dengan kebencian.
Secara gampangan, konflik dapat ditimbulkan oleh bentuk ketidaksesuaian antara harapan dengan kenyataan. Harapan yang sebenarnya sederhana. Harapan untuk dapat memenuhi kebutuhan perut ditanah yang begitu kaya. Harapan bersekolah ditengah negeri yang merdeka, harapan akan rumah yang layak dan harapan sederhana lainnya. Sayangnya harapan itu hanya mimpi yang sulit digapai. Tengok saja, sepanjang tahun 2004 saja ada sekitar 133.023 atau setara dengan 46, 34 % keluarga di Maluku masuk dalam golongan rakyat miskin. (Kompas, Rumah Warga, Potret Kemiskinan di Maluku, 29 Juni 2005, hal. 36).
Ada banyak cerita dibalik semua penderitaan yang dialami oleh warga Maluku. Hasil kekeyaan tanahnya yang terkuras namun tak pernah memberikan sumbangan bagi terbangunnya kehidupan yang lebih baik bagi rakyatnya. Ternyata kini tanah yang dulunya subur itu hari demi hari telah berubah menjadi lahan yang tandus.
Curah hujan anatara 1000 – 2000 mm per tahun bahkan tak mampu lagi menahan rakusnya manusia mengeksploitasi tanah Maluku dan berakibat pada 1,1 juta hektar, sekitar 26,74 % dari seluruh luas wilayah Maluku menjadi lahan yang kritis. Tanah yang dulunya subur untuk ditanami kini hanya dapat menhasilkan debu yang merusak kesehatan paru - paru. Sayangnya ini semua terjadi disebabkan perilaku buruk manusia. Salah satunya kebiasaan negeri ini dalam menebangi hutannya tanpa penuh dengan pertimbangan. Dan pelakunya tak sulit untuk ditebak, mulai dari masyarakat hingga perusahaan penebangan hutan. Anehnya sungguh sulit membedakan mana yang dilakukan dengan legal dan yang ilegal.
Lantas apa memang sungguh sulit untuk menjaga kayu yang ada di hutan? bukankah kayu yang di hutan itu sunggu berat dan sulit untuk dipindahkan? Tapi itu pulalah ciri paling khas negeri ini. Untuk memindahkan harta curian begitu mudah dilakukan, dan sebaliknya begitu sulit untuk dilacak oleh mereka yang berkewajiban. Lihat saja kayu jenis merbau ilegal dari hutan Wae Sarputih, kecamatan Seram Utara, Maluku Tengah sebanyak 3.738 meter kubik yang sudah tertangkap saja bisa hilang! (Kompas, 3.738 Meter Kubik Kayu Temuan Raib. 13 Juni 2005, hal. 28) Apalagi kayu yang masih berada di hutan sana? Pastilah lebih mudah untuk di curi.
Bayangkan jenis kayu ini memiliki nilai mencapai Rp 700.000 per meter kubiknya, sehingga nilainya mencapai Rp 2.616.600.000. Sungguh nilai yang tak sedikit bagi Wa Amra dan mereka yang miskin dan hidup di bilik – bilik pengungsian. Walaupun nilai yang sebenarnya jauh lebih besar dari angka itu. Karena tanah yang rusak akibat penebangan semacam ini tentunya memiliki nilai yang masih jauh lebih besar nilainya.
Tak cukup berhenti sampai disitu. Hidup dibilik dengan berbagai resiko akan berbagai penyakit tak cukup. Itu semua ternyata tak cukup untuk membuat rasa haru bagi sebagian manusia yang ada di tanah Pattimura sana. Lihat saja dana yang harusnya dibagikan bagi mereka yang tinggal dipengungsian justru ditilep, mereka yang tak bertanggungjawab. (Kompas, Pemalsu Data Pengungsi Dilaporkan ke Polisi. 7 Juni 2005, hal. 20). Sungguh sulit membayangkan mereka akan dapat hidup lebih baik kala orang yang harusnya memiliki tanggungjawab akan hidup mereka justru tak lagi dapat dipercaya.
Tapi ini semua hanya ada di pikiran rakyat yang jelata. Dimana pemimpin dan rakyat memang jelas berjarak. Sekali lagi, ini semua hanya ada di pikiran rakyat yang jelata. Rakyat yang hanya dapat mengerti tanpa dapat bertanya apalagi menggugat mengapa mereka dapat hidup miskin. Sehingga jangan terlalu pusing jika ditanah Maluku kini begitu mudah muncul konflik. Itu semua tak lebih karena mereka miskin. Miskin akan perut, miskin akan kesempatan untuk maju, belajar, dan miskin yang lainnya. Sungguhkah sulit untuk dapat memenuhi itu?
Jogja 25 Sept 2005, saat semua berpadu
Beda dengan Wa Amra warga Maluku yang punya anak busung lapar itu (Rumah dan Bilik Pengungsian, Kompas 29 juni 2005 hal 36). Kalau ditanya yakin jawabannya pasti yang pertama, miskin maka kelaparan. Itulah sebabnya Wa Amra tidak lagi begitu mengeluh dan berputus asa, karena kelaparan yang dia alami hanyalah akumulasi dari sekian lama miskin dan akhirnya tak mampu lagi memenuhi kebutuhan perutnya. Dan akhirnya busng lapar. Pertanyaan diatas menjadi bagian dari keseharian yang selalu terjadi disekitar kita.
Harus kelaparan dulu baru tau kalo rakyatnya miskin.
Maluku dikenal kaya akan alamnya kini hanya mampu menampilkan pertujukan kemiskinan dan konflik. Tetapi menilik kondisi negeri yang katanya kaya dan budaya kekerabatan masyarakat yang begitu kuat. Sungguh sangat sulit membayang masalah kemiskinan dan konflik muncul. Lihat saja, Maluku sejak dulu dikenal sebagai tambang kekayaan akan rempah – rempah. Bahkan Spanyol dan Portrugis harus mengangkat senjata demi perebutan kekuasaan akan kekayaan ini. Secara kekerabatan, wilayah ini bahkan sangat dikenal dengan budaya gotong royong, pela gandong-nya. Warganya begitu toleran terhadap sesama. Namun semua ini serasa hilang ditelan waktu. Kini yang tampak adalah wajah manusia miskin yang sarat dengan kebencian.
Secara gampangan, konflik dapat ditimbulkan oleh bentuk ketidaksesuaian antara harapan dengan kenyataan. Harapan yang sebenarnya sederhana. Harapan untuk dapat memenuhi kebutuhan perut ditanah yang begitu kaya. Harapan bersekolah ditengah negeri yang merdeka, harapan akan rumah yang layak dan harapan sederhana lainnya. Sayangnya harapan itu hanya mimpi yang sulit digapai. Tengok saja, sepanjang tahun 2004 saja ada sekitar 133.023 atau setara dengan 46, 34 % keluarga di Maluku masuk dalam golongan rakyat miskin. (Kompas, Rumah Warga, Potret Kemiskinan di Maluku, 29 Juni 2005, hal. 36).
Ada banyak cerita dibalik semua penderitaan yang dialami oleh warga Maluku. Hasil kekeyaan tanahnya yang terkuras namun tak pernah memberikan sumbangan bagi terbangunnya kehidupan yang lebih baik bagi rakyatnya. Ternyata kini tanah yang dulunya subur itu hari demi hari telah berubah menjadi lahan yang tandus.
Curah hujan anatara 1000 – 2000 mm per tahun bahkan tak mampu lagi menahan rakusnya manusia mengeksploitasi tanah Maluku dan berakibat pada 1,1 juta hektar, sekitar 26,74 % dari seluruh luas wilayah Maluku menjadi lahan yang kritis. Tanah yang dulunya subur untuk ditanami kini hanya dapat menhasilkan debu yang merusak kesehatan paru - paru. Sayangnya ini semua terjadi disebabkan perilaku buruk manusia. Salah satunya kebiasaan negeri ini dalam menebangi hutannya tanpa penuh dengan pertimbangan. Dan pelakunya tak sulit untuk ditebak, mulai dari masyarakat hingga perusahaan penebangan hutan. Anehnya sungguh sulit membedakan mana yang dilakukan dengan legal dan yang ilegal.
Lantas apa memang sungguh sulit untuk menjaga kayu yang ada di hutan? bukankah kayu yang di hutan itu sunggu berat dan sulit untuk dipindahkan? Tapi itu pulalah ciri paling khas negeri ini. Untuk memindahkan harta curian begitu mudah dilakukan, dan sebaliknya begitu sulit untuk dilacak oleh mereka yang berkewajiban. Lihat saja kayu jenis merbau ilegal dari hutan Wae Sarputih, kecamatan Seram Utara, Maluku Tengah sebanyak 3.738 meter kubik yang sudah tertangkap saja bisa hilang! (Kompas, 3.738 Meter Kubik Kayu Temuan Raib. 13 Juni 2005, hal. 28) Apalagi kayu yang masih berada di hutan sana? Pastilah lebih mudah untuk di curi.
Bayangkan jenis kayu ini memiliki nilai mencapai Rp 700.000 per meter kubiknya, sehingga nilainya mencapai Rp 2.616.600.000. Sungguh nilai yang tak sedikit bagi Wa Amra dan mereka yang miskin dan hidup di bilik – bilik pengungsian. Walaupun nilai yang sebenarnya jauh lebih besar dari angka itu. Karena tanah yang rusak akibat penebangan semacam ini tentunya memiliki nilai yang masih jauh lebih besar nilainya.
Tak cukup berhenti sampai disitu. Hidup dibilik dengan berbagai resiko akan berbagai penyakit tak cukup. Itu semua ternyata tak cukup untuk membuat rasa haru bagi sebagian manusia yang ada di tanah Pattimura sana. Lihat saja dana yang harusnya dibagikan bagi mereka yang tinggal dipengungsian justru ditilep, mereka yang tak bertanggungjawab. (Kompas, Pemalsu Data Pengungsi Dilaporkan ke Polisi. 7 Juni 2005, hal. 20). Sungguh sulit membayangkan mereka akan dapat hidup lebih baik kala orang yang harusnya memiliki tanggungjawab akan hidup mereka justru tak lagi dapat dipercaya.
Tapi ini semua hanya ada di pikiran rakyat yang jelata. Dimana pemimpin dan rakyat memang jelas berjarak. Sekali lagi, ini semua hanya ada di pikiran rakyat yang jelata. Rakyat yang hanya dapat mengerti tanpa dapat bertanya apalagi menggugat mengapa mereka dapat hidup miskin. Sehingga jangan terlalu pusing jika ditanah Maluku kini begitu mudah muncul konflik. Itu semua tak lebih karena mereka miskin. Miskin akan perut, miskin akan kesempatan untuk maju, belajar, dan miskin yang lainnya. Sungguhkah sulit untuk dapat memenuhi itu?
Jogja 25 Sept 2005, saat semua berpadu
15 September, 2009
"Jika"
Jika harus aku kembali
Aku hanya kembali karena ingin duduk dan mendengarmu
Memandang dan melihat gerak mata dan bibirmu
Aku tak inginkan lebih
Mendengar alunan suaramu
Kan kucoba membuatnya menjadi rangkaian lagu
Jika aku harus pergi
aku akan melangkah menjauh dan menatap hanya kedepan
Kuarahkan kepala ini melongok kebawah
Kupastikan dia tak akan melihat kebelakang
Kuyakinkan tak akan mencoba ntuk merasakan kembali
Hanya melangkah, melangkah menuju hidup yang lain
Jika aku harus menunggu
Kan kucari hamparan sawah hijau
Tempatku menanti terbitnya sang Mentari
Memancar cahaya penuh kilauan harapan
Membawaku pada sebuah kepastian
Jalan hidup
14 September, 2009
Menghela!
Aku duduk di tepian samudra
Memandang jauh hingga ke ufuk timur
Aku menatap terus
Menembus lipatan embun
Termenung dibawah kibasan sayap Rajawali
Seolah ingin bertanya
Aku jatuh dalam pelakukan alam pikirku sendiri
Bertanya kedalam tanpa sempat melihat keluar.
Siapakah kini yang duduk termenung itu
Kucoba meraih satu persatu titik nan jauh disana
Dalam angan kepala yang tak mau berhenti
Berlari terus
Sungguh aku mau berhenti
Meletakkan semua dalam tumpukan pasir yang terhempas ombak.
Hidupku
(Tarian semu, diujung samudra)
Memandang jauh hingga ke ufuk timur
Aku menatap terus
Menembus lipatan embun
Termenung dibawah kibasan sayap Rajawali
Seolah ingin bertanya
Aku jatuh dalam pelakukan alam pikirku sendiri
Bertanya kedalam tanpa sempat melihat keluar.
Siapakah kini yang duduk termenung itu
Kucoba meraih satu persatu titik nan jauh disana
Dalam angan kepala yang tak mau berhenti
Berlari terus
Sungguh aku mau berhenti
Meletakkan semua dalam tumpukan pasir yang terhempas ombak.
Hidupku
(Tarian semu, diujung samudra)
Menghempas!
Aku ingin terbang, menembus semua ruang!
Tak ada waktu yang dapat membatas
Hembusan angin tak sanggup mengejar.
Terbang secepat kilatan cahaya.
Tak ada waktu yang dapat membatas
Hembusan angin tak sanggup mengejar.
Terbang secepat kilatan cahaya.
Meninggalkan ruang, meninggalkan waktu dan meninggalkan mimpi.
Aku ingin meninggalkan semua
(Ntah, Meninggalkan semua harapan)
Langganan:
Postingan (Atom)