Hari ini aku teriak pada langit
Melepas semua
Menembus semua angan
Menghempas segala yang kumiliki
Aku ingin telanjang
Tanpa beban hidup dan juga raihan jiwa.
Tenang dalam belaian alam
(maaf, tak ada lagi)
Mencoba bersentuhan lebih dekat, lebih terbuka dalam segala bentuk ruang dan waktu
10 September, 2009
08 September, 2009
Zaman Edan!
Surya Respationo, ketua DPRD kota Batam 2004-2009 (www. Batampos.com), dalam pidatonya mengutip Raden Ngabehi Rangga Warsita untuk melihat situasi kekinian. ‘’Hidup di zaman edan, suasana jadi serba sulit, ikut edan tak tahan, tak ikut tak kebagian malah mendapat kesengsaraan, begitulah kehendak Allah, sebahagia-bahagianya orang lupa lebih bahagia orang sadar dan waspada’’
Berbagai peristiwa di negeri ini menyuguhkan ke-edan-an. Peristiwa semburan lumpur panas di Sidoarjo. Perut bumi menyemburkan lumpur panas di lokasi pengeboran PT Lapindo Brantas di Desa Renokenongo, Kecamatan Porong. Perdebatan panjang mulai dari warga hingga elit. Memunculkan polemik yang ujungnya mengarahkan kasus ini menjadi kejadian luar biasa. Lepas tangan? Inilah wajah negeri ini.
Selain masalah diatas, sebenarnya adalagi yang lebih edan. Masih ingat polemik Bantuan langsung tunai (BLT)? Negera berperan layaknya Robin Hood, membagikan uang kepada rakyat. Berbagai kontra bermunculan. Efektifitas program, pembentukan mental malas bahkan jiwa pengemis dalam karakter warga mejadi alasan kontra yang membalutnya. Pemerintah bersikukuh mempertahankan program ini dengan alasan menjalankan fungsi sosialnya.
Anehnya begitu pemilu berakhir pemerintah memiliki pandangan yang berbeda. Menghentikan program BLT dengan alasan BLT tidak mendidik rakyat. Edan, sebuah program berjalan menghabiskan dana triliunan rupiah. Hasilnya penilaian terhadap program justru dilihat sebagai kebijakan yang tidak mendidik oleh pelaksana program itu sendiri. Bagaimana mungkin sebuah kebijakan dikeluarkan dengan nilai triliunan hanya sekedar menghasilkan dekadensi moral bagi masyarakatnya. Pemerintahan yang menelan air ludahnya sendiri, Edan.
Yang terbaru, kasus bank Century. Ironis, lebih dari 6,7 triliun uang negara dihamburkan untuk menyelamatkan sebuah bank yang entah berapa besar perannya untuk pembangunan negeri ini. Kebijakan yang tidak lebih berbobot layaknya uang jajan demi satu bungkus petasan bagi anak kecil. Membahayakan, miskin manfaat, Edan!
Bayangkan 6.7 Triliun enam kali lipat dari APBD Propinsi Kepri. Artinya dengan dana ini dapat menjalankan pemerintahan diseantero Kepri selam 6 tahun. Namun digunakan hanya "menyelamatkan" sebuah bank yang tak jelas tujuannya.
Tak jelas karena sebuah bank bisa membutuhkan suntikan dana padahal memiliki fungsi menyerap dan meyalurkan dana dari dan untuk masyarakat. Dimana letaknya hingga sebuah bank perlu diselamatkan! Bukankah sebaliknya bank memiliki peran untuk menyelamatkan negara lewat perannya dalam pembangunan distribusi permodalan? Namun, pemimpin negara ini lebih peka terhadap sebuah bank yang ntah duit didalamnya milik siapa. bahkan duit 6.7 triliun duit rakyat sudah pindah tangan jadi milik siapa!
Salam buat negeri Edan, negeri penuh kegilaan. Jika harus kembali pada kutipan Raden Ngabehi Rangga Warsita, hidup di zaman edan, suasana jadi serba sulit, ikut edan tak tahan, tak ikut tak kebagian malah mendapat kesengsaraan. Sudah layaknya tak perlu untuk mengarahkan pikiran untuk ngikut. Karena jika demikian, ntah sampai kapan negeri ini akan Edan. Semoga cepat menemukan jamu muzarab,obat anti Edan!
Berbagai peristiwa di negeri ini menyuguhkan ke-edan-an. Peristiwa semburan lumpur panas di Sidoarjo. Perut bumi menyemburkan lumpur panas di lokasi pengeboran PT Lapindo Brantas di Desa Renokenongo, Kecamatan Porong. Perdebatan panjang mulai dari warga hingga elit. Memunculkan polemik yang ujungnya mengarahkan kasus ini menjadi kejadian luar biasa. Lepas tangan? Inilah wajah negeri ini.
Selain masalah diatas, sebenarnya adalagi yang lebih edan. Masih ingat polemik Bantuan langsung tunai (BLT)? Negera berperan layaknya Robin Hood, membagikan uang kepada rakyat. Berbagai kontra bermunculan. Efektifitas program, pembentukan mental malas bahkan jiwa pengemis dalam karakter warga mejadi alasan kontra yang membalutnya. Pemerintah bersikukuh mempertahankan program ini dengan alasan menjalankan fungsi sosialnya.
Anehnya begitu pemilu berakhir pemerintah memiliki pandangan yang berbeda. Menghentikan program BLT dengan alasan BLT tidak mendidik rakyat. Edan, sebuah program berjalan menghabiskan dana triliunan rupiah. Hasilnya penilaian terhadap program justru dilihat sebagai kebijakan yang tidak mendidik oleh pelaksana program itu sendiri. Bagaimana mungkin sebuah kebijakan dikeluarkan dengan nilai triliunan hanya sekedar menghasilkan dekadensi moral bagi masyarakatnya. Pemerintahan yang menelan air ludahnya sendiri, Edan.
Yang terbaru, kasus bank Century. Ironis, lebih dari 6,7 triliun uang negara dihamburkan untuk menyelamatkan sebuah bank yang entah berapa besar perannya untuk pembangunan negeri ini. Kebijakan yang tidak lebih berbobot layaknya uang jajan demi satu bungkus petasan bagi anak kecil. Membahayakan, miskin manfaat, Edan!
Bayangkan 6.7 Triliun enam kali lipat dari APBD Propinsi Kepri. Artinya dengan dana ini dapat menjalankan pemerintahan diseantero Kepri selam 6 tahun. Namun digunakan hanya "menyelamatkan" sebuah bank yang tak jelas tujuannya.
Tak jelas karena sebuah bank bisa membutuhkan suntikan dana padahal memiliki fungsi menyerap dan meyalurkan dana dari dan untuk masyarakat. Dimana letaknya hingga sebuah bank perlu diselamatkan! Bukankah sebaliknya bank memiliki peran untuk menyelamatkan negara lewat perannya dalam pembangunan distribusi permodalan? Namun, pemimpin negara ini lebih peka terhadap sebuah bank yang ntah duit didalamnya milik siapa. bahkan duit 6.7 triliun duit rakyat sudah pindah tangan jadi milik siapa!
Salam buat negeri Edan, negeri penuh kegilaan. Jika harus kembali pada kutipan Raden Ngabehi Rangga Warsita, hidup di zaman edan, suasana jadi serba sulit, ikut edan tak tahan, tak ikut tak kebagian malah mendapat kesengsaraan. Sudah layaknya tak perlu untuk mengarahkan pikiran untuk ngikut. Karena jika demikian, ntah sampai kapan negeri ini akan Edan. Semoga cepat menemukan jamu muzarab,obat anti Edan!
07 September, 2009
Lepas!
Kemarin aku melihat batu kecil tak lagi muncul memancarkan cahaya diatas tumpukan pasir
Ombak ditepian pantai saling menghempas seolah hendak menunjukkan amarah yang menggelora!
Diujung jauh kupandang pohon hijau berbaris tersenyum sinis!
Sementara Mentari memancarkan cahaya, penuh kegeraman
Hanya angin yang datang menyapaku dengan bisikan yang membawa kesejukan
Kadang datang, kadang pergi
Hanya lewat
Terima kasih untuk semua, dia sudah mampir dan memberiku sedikit rasa, untuk tetap dapat bertahan dalam alun pikiran yang memohon untuk berhenti.
(Saat semua terasa menghilang)
Ombak ditepian pantai saling menghempas seolah hendak menunjukkan amarah yang menggelora!
Diujung jauh kupandang pohon hijau berbaris tersenyum sinis!
Sementara Mentari memancarkan cahaya, penuh kegeraman
Hanya angin yang datang menyapaku dengan bisikan yang membawa kesejukan
Kadang datang, kadang pergi
Hanya lewat
Terima kasih untuk semua, dia sudah mampir dan memberiku sedikit rasa, untuk tetap dapat bertahan dalam alun pikiran yang memohon untuk berhenti.
(Saat semua terasa menghilang)
28 Agustus, 2009
KRITERIA DAN PROSEDUR ANALITIS DALAM MEMBUAT KEPUTUSAN MENGENAI INVESTASI YANG DIUSULKAN
Disusun oleh :
SWANRO PIUS.P.NAINGGOLAN
CHRISNA HADI BASKORO
Hasil yang paling dari menerima atau menolak usulan-usulan yang terutama berdasarkan pada bagaimana pentingnya usulan itu ialah bahwa rencana pengangguran modal tampaknya berubah menjadi suatu kontes kepribadian. Bagian terbesar dari uang modal-pengeluaran akan pergi ke Kepala-kepala divisi yang paling pandai bicara dan paling ngotot dalam mengajukannya daripada kepada mereka yang telah mempergunakan waktu dan usaha untuk membuat perkiraan perkiraan yang obyektif mengenai nilai ekonomis proyek itu.
Hasilnya adalah bahwa semua proyek muncul untuk dibahas dalam suasana terburu-buru dan darurat, dengan ruang lingkup yang penuh dengan seni membujuk dan menasihati। Tidak hanya proyek yang kelayakan ekonomisnya meragukan akan diajukan supaya diterima, tetapi juga proporsi investasi yang besar yang bisa menghasilkan penghematan besar dan keuntungan tinggi mungkin ditunda untuk waktu yang tidak tertentu।
Meskipun investasi dalam bentuk aset fisik terlihat di dalam keadaan sebenarnya yang dijelaskan secara singkat, konsep yang diberikan dapat diterapkan secara luas untuk segala macam pengambilan keputusan. Dalam hal ini, kita melihat lebih khusus pada konsep yang relevan keputusan untuk jenis investasi yang begitu sering diperlukan jika terdapat alternatif teknik.
I. Kriteria Keputusan
Jelasnya, kriteria itu harus digunakan pada perbedaan dalam konsekuensi yang diperoleh dari pilihan di antara alternatif yang berlainan।
Dengan referensi pada usulan untuk investasi alternatif dalam bentuk aset fisik, telah dinyatakan bahwa konsekuensi dari sebuah pilihan harus dinyatakan sejauh yang dapat dilakukan dalam bentuk aliran dana (atau angka-angka moneter lainnya) pada titik waktu yang dinyatakan। Disarankan dalam hal ini bahwa harus selalu ada kriteria primer yang diterapkan pada angka-angka moneter itu. Dalam berhubungan dengan jenis-jenis usulan tertentu, bisa juga lebih disukai untuk mempunyai satu atau lebih kreiteria tambahan atau sekunder yang diterapkan pada angka-angka moneter tersebut.
Dinyatakan diatas bahwa tidak semua konsekuensi keputusan yang prospektif mengenai investasi dalam aset fisik dapat disederhanakan menjadi bentuk angka moneter. Bobot sering perlu untuk diberikan pada kata yang tak dapat di sederhanakan itu. Hal itu menyebabkan bahwa bisa terdapat kriteria sekunder untuk pengambilan keputusan yang berkaitan dengan perbedaan-perbedaan dalam konsekuensi perkiraan yang belum dinyatakan dalam angka-angka moneter.
I.1. Kriteria Primer
Kriteria primer yang digunakan dalam sebuah pilihan diantara alternatif usul-usul investasi dalam aset fisik harus dipilih dengan tujuan untuk membuat penggunaan terbaik dari sumber daya yang terbatas। Apakah kita berpikir mengenai sebuah individu, keluarga, kegiatan bisnis, atau sebuah unit pemerintah seperti sebuah kota, negara bagian, atau bangsa, biasanya benar bahwa pada setiap saat terdapat keterbatasan sumber daya yang ada yang dapat diberikan untuk investasi dalam bentuk aset fisik.
Sumber-sumber daya yang terbatas itu bisa berbagai macam, seperti tanah, buruh, atau bahan-bahan। Tetapi karena pasar memberikan pada kita penilaian uang terhadap kebanyakan sumber-sumber itu, biasanya beralasan untuk menyatakan pembatasan keseluruhan dalam bentuk uang.
Dalam mengevaluasi investasi yang diusulkan, pertanyaan yang harus dinyatakan apakah investasi itu cukup produktif, segala sesuatunya dipertimbangkan. “Cukup produktif” bisa ditafsirkan sebagai menghasilkan suatu pengembalian modal yang memadai jika dibandingkan dengan satu atau lebih alternatif yang disebutkan.
Paper ini akan mengasumsikan bahwa sebuah keputusan dapat dan telah dibuat pada tingkat suku bunga minimum yang menguntungkan untuk setiap keadaan dan bahwa keputusan ini adalah dasar untuk kriteria primer yang digunakan untuk keputusan investasi।
Kita akan melihat bahwa kita perlu untuk menggunakan matematika mengenai bunga majemuk untuk mengunakan kriteria primer yang berdasarkan pada tingkat bunga minimum yang menguntungkan. Empat cara yang berhubungan dengan I* (tingkat bunga) yang berlainan untuk melaksanakan kriteria ini adalah:
1. Aliran dana tahunan uniform ekivalen (Equivalent Uniform Annual Cash flow), dengan tingkat bunga minimum menguntungkan I* yang ditentukan sebelumnya sebagai tingkat suku bunga.
2. Nilai sekarang (Present Worth), dengan tingkat bunga minimum yang menguntungkan I* yang telah ditentukan sebelumnya sebagai tingkat suku bunga.
3. Tingkat pengembalian prospektif (rate of return) dengan tingkat bunga yang dihitung dan dibandingkan dengan tingkat bunga minimum I* yang telah ditentukan sebelumnya.
4. Rasio manfaat-ongkos (Benefit – Cost Ratio), dengan tingkat bunga minimum menguntungkan I* yang telah ditentukan sebelumnya digunakan sebagai tingkat suku bunga.
Ditunjukan pada cara-cara diatas bahwa dengan satu input yang sama, maka keempat metode itu mengarah kepada sebuah kesimpulan yang sama yaitu apakah kriteria primer telah dipenuhi atau belum.
Dimana pajak pendapatan dipungut, pajak semacam itu cenderung mengurangi tingkat suku bunga dari investasi di aset-aset fisik। Namun, Undang-undang dan peraturan pajak pendapatan jenis investasi tertentu dibandingkan dengan jenis lainnya; untuk berbagai alasan yang berhubungan dengan hal-hal teknis dari pajak pendapatan; tingkat bunga setelah pajak pajak bukan merupakan persentase yang tetap dari bunga sebelum pajak.
Secara prinsip, diperoleh bahwa konsekuensi pajak pendapatan dari investasi yang diusulkan harus diperkirakan, dan bahwa tingkat suku bunga minimum menguntungkan yang ditetapkan pada industri swasta haruslah tingkat suku bunga setelah pajak dan bukan tingkat suku bunga sebelum pajak.
Penggunaan tingkat bunga minimum yang menguntungkan setelah pajak digambarkan dalam contoh yang dimulai dengan menggunakan asumsi-asumsi tertentu yang disederhanakan mengenai hubungan antara aliran dana sebelum pajak dan setelah pajak.
Pembahasan mengenai kerumitan kritis dari cara-cara dimana pajak pendapatan mempengaruhi keuntungan-keuntungan relatif dari investasi yang diusulkan ditunda. Sebagai contoh, dengan menggunakan tingkat bunga minimum yang menguntungkan setelah-pajak, kriteria primer bisa dinyatakan dengan aturan keputusan sebagai “meminimumkan ongkos untuk memperoleh sejumlah tertentu barang atau jasa.”
I.2. Kriteria Sekunder
Perkiraan-perkiraan yang paling telitipun dari konsekuensi moneter dalam memilih alternatif yang berlainan ternyata hampir pasti tidak tepat. Sering berguna untuk seorang pengambil keputusan menggunakan kriteria sekunder yang mencerminkan tidak adanya kepastian yang berhubungan dengan semua perkiraan-perkiraan di masa yang akan datang.
Keputusan-keputusan diantara alternatif investasi harus memberikan bobot untuk setiap perbedaan dalam konsekuensi yang belum disederhanakan ke dalam bentuk uang maupun dalam konsekuensi yang telah dinyatakan dalam bentuk uang।
Dicetakan kedua dari Engineering Economics-nya, yang diterbitkan tahun 1923, Profesor J।C.L. Fish menggunakan frasa “data yang tak dapat disederhanakan dari persoalan investasi” untuk digunakan pada perbedaan-perbedaan prospektif diantara alternatif yang tidak disederhanakan menjadi penerimaan-penerimaan dan pembayaran-pembayaran yang diperkirakan untuk maksud-maksud analisa. Kata-kata lain yang telah digunakan untuk perbedaan non-moneter seperti itu adalah “faktor-faktor penilaian” , “tak terduga’ , dan “tak dapat dilihat”.
Tak ada kata lain atau frasa pendek yang dengan sendirinya membawa ide yang tepat dari suatu yang relevan dalam keputusan tertentu tetapi belum dinayatakan dalam bentuk uang karena sesuatu hal atau yang lainnya। Seiring tidak banyak dipercaya oleh seorang analisis bahwa perbedaan yang dipertanyakan akhirnya tidak akan mempengaruhi penerimaan dan pembayaran karena dia tidak mempunyai dasar kepuasan untuk memperkirakan berapa banyak pengaruhnya pada aliran dana dan kapan pengaruhnya pada aliran dana dan kapan pengaruh ini akan terjadi.
Didalam buku ini kita telah memilih untuk menggunakan hal-hal yang dapat disederhanakan atau data yang tak dapat disederhanakan di dalam pengertian teknik khusus dari perbedaan-perbedaan yang relevan terhadap konsekuensi yang diharapkan dari sebuah keputusan yang belum disederhanakan ke dalam bentuk uang।
Ada dua alasan untuk pemilihan, satu alasan bersifat historis, ialah bahwa pemakaian ini mulai sejak tahun 1923। Alasan lain ialah bahwa kata atau frasa itu tidak umum digunakan dalam pembicaraan sehari-hari dan oleh sebab itu mempunyai arti populer yang berbeda yang bisa menjadi sebab salah taksirannya.
Hal-hal yang tidak dapat disederhanakan mungkin memainkan bagian yang sangat besar di dalam keputusan-keputusan investasi pribadi। Sebagai contoh, pertimbangkan pilihan antara memiliki sebuah rumah atau menyewa. Jelas bahwa banyak aspek persoalan yang harus ditaksir dalam bentuk uang sebagai petunjuk bagi pengambilan keputusan yang tepat.
Namun, hal-hal selera pribadi yang tidak dapat dinyatakan dalam bentuk uang harus diberikan bobot yang tepat di dalam keputusan semacam ini। Jadi kebanggaan memiliki rumah bisa menjadi kepentingan utama bagi sebuah keluarga dan merupakan persoalan pelengkap biasa bagi yang lain.
Untuk alasan yang dibicarakan, hal-hal yang tidak dapat disederhanakan kecil dapat juga diberi bobot yang besar di banyak keputusan oleh pemerintah.
II. Segi Pandangan Sistem
Sering terdapat efek-efek samping yang cenderung diabaikan jika keputusan-keputusan individu dibuat. Untuk mempertimbangkan efek-efek samping rencana semacam itu dengan memadai, mungkin perlu untuk memeriksa antar hubungan diantara sejumlah keputusan setiap keputusan individu bisa dibuat.
Persoalan dasarnya di sini ialah apakah segi pandangan yang terlalu sempit yang diambil dari alternatif yang sedang dibandingkan. Jika efek-efek samping dari sebuah keputusan tidak cukup penting mungkin sebuah studi tentang mereka tidak akan mengubah keputusan mungkin diperlukan untuk memberikan sebuah dasar untuk penilaian mengenai apakah efek-efek samping itu tidak penting.
Pada studi kasus kita dapat lihat pengambilan suatu keputusan, dalam suatu perusahaan listrik yang sudah berjalan 20 tahun berencana memaksimalkan keuntungan dengan jalan menambah energi. Proyek tersebut telah terdapat dua alternatif dalam memperbaharui sumber daya listrik, alternatif pertama disebutkan untuk membeli dan memasang pembangkit listrik yang baru, sedangkan alternatif kedua menyebutkan untuk mengefektifkan pembangkit listrik yang lama dengan jalan meng- elektrifikasi peralatan tersebut.
Ketika perkiraan dana untuk kedua alternatif ini dihitung , terbukti bahwa mengefektikan pembangkit listrik yang lama dananya lebih murah dari pada beli yang baru ,tetapi yang menjadi permasalahan adalah biaya perawatan, apakah jika menggunakan pembangkit yang lama akan mendatangkan keuntungan yang lebih besar daripada pembangkit listrik yang baru.
Analisa dibuat dalam biaya perawatan, ternyata dengan membeli pembangkit listrik yang baru biaya perawatannya lebih murah, karena pada tahun pertama dan kedua masih mendapat garansi dari perusahaan sedangkan pada pembangkit yang lama karena sudah lama diperlukan biaya perawatan yang lebih.
Kriteria kedua dilihat dari pertumbuhan jumlah penduduk, jika tiap tahun penduduk bertambah , maka akan lebih efektif jika membeli pembangkit listrik yang baru, karena dengan membeli yang baru perusahaan itu akan memiliki dua pembangkit listrik, dan dengan begitu dapat melayani konsumen dengan mudah, tetapi memerlukan tambahan tempat untuk pembangkit yang baru dan menambah pekerja.sedangkan jika perusahaan itu mengelektrifikasi pembangkit listrik yang lama akan mengurangi jumlah karyawan dan dapat menghemat pengeluaran.
Dalam hal tenaga kerja , jika membeli pembangkit listrik yang baru maka akan diperlukan operator yang baru juga, sedangkan pada pembangkit yang lama kita tidak perlu operator yang baru.
Dalam pengambilan keputusan, akhirnya diperlukan beberapa orang (kelompok) untuk membuat keputusan. Pilihan diantara alternatif investasi harus berdasarkan pada kriteria primer yang dipilih. Dalam kasus harus ada kriteria sekunder dalam menyederhanakan pilihan-pilihan yang ada.dalam contoh diatas analisa memihak pada alternatif membeli pembangkit istrik yang baru.
Kesimpulan
Keputusan- keputusan harus berdasarkan kepada konsekuensi yang diharapkan dari alternatif ,semua konsekuensi ini akan terjadi masa depan। Dalam membandingkan alternatif- alternatif lebih disukai membuat konsekuensi- konsekuensi sesuai satu sama lainnya selama masih dapat dilaksanakan. Yaitu konsekuensi itu harus dinyatakan dalam angka dan satuan -satuan yang sama harus digunakan pada angka- angka ini. Dalam keputusan ekonomi satuan uang merupakan Satu- satunya satuan yang memenuhi spesifikasi sebelumnya.
Daftar Pustaka
1. EL। Grant,W।G. Ireson, R.S. Leavenworth,1993, Dasar-Dasar Ekonomi Teknik, edisi 1, PT Melton Putra, Jakarta,hal 20-25.
2. J.C.L. Fish, 1923, engineering economics,jilid 2.
3. M. joyowiyono,1983 , ekonomi teknik (engineering economics),jilid 2.
SWANRO PIUS.P.NAINGGOLAN
CHRISNA HADI BASKORO
Hasil yang paling dari menerima atau menolak usulan-usulan yang terutama berdasarkan pada bagaimana pentingnya usulan itu ialah bahwa rencana pengangguran modal tampaknya berubah menjadi suatu kontes kepribadian. Bagian terbesar dari uang modal-pengeluaran akan pergi ke Kepala-kepala divisi yang paling pandai bicara dan paling ngotot dalam mengajukannya daripada kepada mereka yang telah mempergunakan waktu dan usaha untuk membuat perkiraan perkiraan yang obyektif mengenai nilai ekonomis proyek itu.
Hasilnya adalah bahwa semua proyek muncul untuk dibahas dalam suasana terburu-buru dan darurat, dengan ruang lingkup yang penuh dengan seni membujuk dan menasihati। Tidak hanya proyek yang kelayakan ekonomisnya meragukan akan diajukan supaya diterima, tetapi juga proporsi investasi yang besar yang bisa menghasilkan penghematan besar dan keuntungan tinggi mungkin ditunda untuk waktu yang tidak tertentu।
Meskipun investasi dalam bentuk aset fisik terlihat di dalam keadaan sebenarnya yang dijelaskan secara singkat, konsep yang diberikan dapat diterapkan secara luas untuk segala macam pengambilan keputusan. Dalam hal ini, kita melihat lebih khusus pada konsep yang relevan keputusan untuk jenis investasi yang begitu sering diperlukan jika terdapat alternatif teknik.
I. Kriteria Keputusan
Jelasnya, kriteria itu harus digunakan pada perbedaan dalam konsekuensi yang diperoleh dari pilihan di antara alternatif yang berlainan।
Dengan referensi pada usulan untuk investasi alternatif dalam bentuk aset fisik, telah dinyatakan bahwa konsekuensi dari sebuah pilihan harus dinyatakan sejauh yang dapat dilakukan dalam bentuk aliran dana (atau angka-angka moneter lainnya) pada titik waktu yang dinyatakan। Disarankan dalam hal ini bahwa harus selalu ada kriteria primer yang diterapkan pada angka-angka moneter itu. Dalam berhubungan dengan jenis-jenis usulan tertentu, bisa juga lebih disukai untuk mempunyai satu atau lebih kreiteria tambahan atau sekunder yang diterapkan pada angka-angka moneter tersebut.
Dinyatakan diatas bahwa tidak semua konsekuensi keputusan yang prospektif mengenai investasi dalam aset fisik dapat disederhanakan menjadi bentuk angka moneter. Bobot sering perlu untuk diberikan pada kata yang tak dapat di sederhanakan itu. Hal itu menyebabkan bahwa bisa terdapat kriteria sekunder untuk pengambilan keputusan yang berkaitan dengan perbedaan-perbedaan dalam konsekuensi perkiraan yang belum dinyatakan dalam angka-angka moneter.
I.1. Kriteria Primer
Kriteria primer yang digunakan dalam sebuah pilihan diantara alternatif usul-usul investasi dalam aset fisik harus dipilih dengan tujuan untuk membuat penggunaan terbaik dari sumber daya yang terbatas। Apakah kita berpikir mengenai sebuah individu, keluarga, kegiatan bisnis, atau sebuah unit pemerintah seperti sebuah kota, negara bagian, atau bangsa, biasanya benar bahwa pada setiap saat terdapat keterbatasan sumber daya yang ada yang dapat diberikan untuk investasi dalam bentuk aset fisik.
Sumber-sumber daya yang terbatas itu bisa berbagai macam, seperti tanah, buruh, atau bahan-bahan। Tetapi karena pasar memberikan pada kita penilaian uang terhadap kebanyakan sumber-sumber itu, biasanya beralasan untuk menyatakan pembatasan keseluruhan dalam bentuk uang.
Dalam mengevaluasi investasi yang diusulkan, pertanyaan yang harus dinyatakan apakah investasi itu cukup produktif, segala sesuatunya dipertimbangkan. “Cukup produktif” bisa ditafsirkan sebagai menghasilkan suatu pengembalian modal yang memadai jika dibandingkan dengan satu atau lebih alternatif yang disebutkan.
Paper ini akan mengasumsikan bahwa sebuah keputusan dapat dan telah dibuat pada tingkat suku bunga minimum yang menguntungkan untuk setiap keadaan dan bahwa keputusan ini adalah dasar untuk kriteria primer yang digunakan untuk keputusan investasi।
Kita akan melihat bahwa kita perlu untuk menggunakan matematika mengenai bunga majemuk untuk mengunakan kriteria primer yang berdasarkan pada tingkat bunga minimum yang menguntungkan. Empat cara yang berhubungan dengan I* (tingkat bunga) yang berlainan untuk melaksanakan kriteria ini adalah:
1. Aliran dana tahunan uniform ekivalen (Equivalent Uniform Annual Cash flow), dengan tingkat bunga minimum menguntungkan I* yang ditentukan sebelumnya sebagai tingkat suku bunga.
2. Nilai sekarang (Present Worth), dengan tingkat bunga minimum yang menguntungkan I* yang telah ditentukan sebelumnya sebagai tingkat suku bunga.
3. Tingkat pengembalian prospektif (rate of return) dengan tingkat bunga yang dihitung dan dibandingkan dengan tingkat bunga minimum I* yang telah ditentukan sebelumnya.
4. Rasio manfaat-ongkos (Benefit – Cost Ratio), dengan tingkat bunga minimum menguntungkan I* yang telah ditentukan sebelumnya digunakan sebagai tingkat suku bunga.
Ditunjukan pada cara-cara diatas bahwa dengan satu input yang sama, maka keempat metode itu mengarah kepada sebuah kesimpulan yang sama yaitu apakah kriteria primer telah dipenuhi atau belum.
Dimana pajak pendapatan dipungut, pajak semacam itu cenderung mengurangi tingkat suku bunga dari investasi di aset-aset fisik। Namun, Undang-undang dan peraturan pajak pendapatan jenis investasi tertentu dibandingkan dengan jenis lainnya; untuk berbagai alasan yang berhubungan dengan hal-hal teknis dari pajak pendapatan; tingkat bunga setelah pajak pajak bukan merupakan persentase yang tetap dari bunga sebelum pajak.
Secara prinsip, diperoleh bahwa konsekuensi pajak pendapatan dari investasi yang diusulkan harus diperkirakan, dan bahwa tingkat suku bunga minimum menguntungkan yang ditetapkan pada industri swasta haruslah tingkat suku bunga setelah pajak dan bukan tingkat suku bunga sebelum pajak.
Penggunaan tingkat bunga minimum yang menguntungkan setelah pajak digambarkan dalam contoh yang dimulai dengan menggunakan asumsi-asumsi tertentu yang disederhanakan mengenai hubungan antara aliran dana sebelum pajak dan setelah pajak.
Pembahasan mengenai kerumitan kritis dari cara-cara dimana pajak pendapatan mempengaruhi keuntungan-keuntungan relatif dari investasi yang diusulkan ditunda. Sebagai contoh, dengan menggunakan tingkat bunga minimum yang menguntungkan setelah-pajak, kriteria primer bisa dinyatakan dengan aturan keputusan sebagai “meminimumkan ongkos untuk memperoleh sejumlah tertentu barang atau jasa.”
I.2. Kriteria Sekunder
Perkiraan-perkiraan yang paling telitipun dari konsekuensi moneter dalam memilih alternatif yang berlainan ternyata hampir pasti tidak tepat. Sering berguna untuk seorang pengambil keputusan menggunakan kriteria sekunder yang mencerminkan tidak adanya kepastian yang berhubungan dengan semua perkiraan-perkiraan di masa yang akan datang.
Keputusan-keputusan diantara alternatif investasi harus memberikan bobot untuk setiap perbedaan dalam konsekuensi yang belum disederhanakan ke dalam bentuk uang maupun dalam konsekuensi yang telah dinyatakan dalam bentuk uang।
Dicetakan kedua dari Engineering Economics-nya, yang diterbitkan tahun 1923, Profesor J।C.L. Fish menggunakan frasa “data yang tak dapat disederhanakan dari persoalan investasi” untuk digunakan pada perbedaan-perbedaan prospektif diantara alternatif yang tidak disederhanakan menjadi penerimaan-penerimaan dan pembayaran-pembayaran yang diperkirakan untuk maksud-maksud analisa. Kata-kata lain yang telah digunakan untuk perbedaan non-moneter seperti itu adalah “faktor-faktor penilaian” , “tak terduga’ , dan “tak dapat dilihat”.
Tak ada kata lain atau frasa pendek yang dengan sendirinya membawa ide yang tepat dari suatu yang relevan dalam keputusan tertentu tetapi belum dinayatakan dalam bentuk uang karena sesuatu hal atau yang lainnya। Seiring tidak banyak dipercaya oleh seorang analisis bahwa perbedaan yang dipertanyakan akhirnya tidak akan mempengaruhi penerimaan dan pembayaran karena dia tidak mempunyai dasar kepuasan untuk memperkirakan berapa banyak pengaruhnya pada aliran dana dan kapan pengaruhnya pada aliran dana dan kapan pengaruh ini akan terjadi.
Didalam buku ini kita telah memilih untuk menggunakan hal-hal yang dapat disederhanakan atau data yang tak dapat disederhanakan di dalam pengertian teknik khusus dari perbedaan-perbedaan yang relevan terhadap konsekuensi yang diharapkan dari sebuah keputusan yang belum disederhanakan ke dalam bentuk uang।
Ada dua alasan untuk pemilihan, satu alasan bersifat historis, ialah bahwa pemakaian ini mulai sejak tahun 1923। Alasan lain ialah bahwa kata atau frasa itu tidak umum digunakan dalam pembicaraan sehari-hari dan oleh sebab itu mempunyai arti populer yang berbeda yang bisa menjadi sebab salah taksirannya.
Hal-hal yang tidak dapat disederhanakan mungkin memainkan bagian yang sangat besar di dalam keputusan-keputusan investasi pribadi। Sebagai contoh, pertimbangkan pilihan antara memiliki sebuah rumah atau menyewa. Jelas bahwa banyak aspek persoalan yang harus ditaksir dalam bentuk uang sebagai petunjuk bagi pengambilan keputusan yang tepat.
Namun, hal-hal selera pribadi yang tidak dapat dinyatakan dalam bentuk uang harus diberikan bobot yang tepat di dalam keputusan semacam ini। Jadi kebanggaan memiliki rumah bisa menjadi kepentingan utama bagi sebuah keluarga dan merupakan persoalan pelengkap biasa bagi yang lain.
Untuk alasan yang dibicarakan, hal-hal yang tidak dapat disederhanakan kecil dapat juga diberi bobot yang besar di banyak keputusan oleh pemerintah.
II. Segi Pandangan Sistem
Sering terdapat efek-efek samping yang cenderung diabaikan jika keputusan-keputusan individu dibuat. Untuk mempertimbangkan efek-efek samping rencana semacam itu dengan memadai, mungkin perlu untuk memeriksa antar hubungan diantara sejumlah keputusan setiap keputusan individu bisa dibuat.
Persoalan dasarnya di sini ialah apakah segi pandangan yang terlalu sempit yang diambil dari alternatif yang sedang dibandingkan. Jika efek-efek samping dari sebuah keputusan tidak cukup penting mungkin sebuah studi tentang mereka tidak akan mengubah keputusan mungkin diperlukan untuk memberikan sebuah dasar untuk penilaian mengenai apakah efek-efek samping itu tidak penting.
Pada studi kasus kita dapat lihat pengambilan suatu keputusan, dalam suatu perusahaan listrik yang sudah berjalan 20 tahun berencana memaksimalkan keuntungan dengan jalan menambah energi. Proyek tersebut telah terdapat dua alternatif dalam memperbaharui sumber daya listrik, alternatif pertama disebutkan untuk membeli dan memasang pembangkit listrik yang baru, sedangkan alternatif kedua menyebutkan untuk mengefektifkan pembangkit listrik yang lama dengan jalan meng- elektrifikasi peralatan tersebut.
Ketika perkiraan dana untuk kedua alternatif ini dihitung , terbukti bahwa mengefektikan pembangkit listrik yang lama dananya lebih murah dari pada beli yang baru ,tetapi yang menjadi permasalahan adalah biaya perawatan, apakah jika menggunakan pembangkit yang lama akan mendatangkan keuntungan yang lebih besar daripada pembangkit listrik yang baru.
Analisa dibuat dalam biaya perawatan, ternyata dengan membeli pembangkit listrik yang baru biaya perawatannya lebih murah, karena pada tahun pertama dan kedua masih mendapat garansi dari perusahaan sedangkan pada pembangkit yang lama karena sudah lama diperlukan biaya perawatan yang lebih.
Kriteria kedua dilihat dari pertumbuhan jumlah penduduk, jika tiap tahun penduduk bertambah , maka akan lebih efektif jika membeli pembangkit listrik yang baru, karena dengan membeli yang baru perusahaan itu akan memiliki dua pembangkit listrik, dan dengan begitu dapat melayani konsumen dengan mudah, tetapi memerlukan tambahan tempat untuk pembangkit yang baru dan menambah pekerja.sedangkan jika perusahaan itu mengelektrifikasi pembangkit listrik yang lama akan mengurangi jumlah karyawan dan dapat menghemat pengeluaran.
Dalam hal tenaga kerja , jika membeli pembangkit listrik yang baru maka akan diperlukan operator yang baru juga, sedangkan pada pembangkit yang lama kita tidak perlu operator yang baru.
Dalam pengambilan keputusan, akhirnya diperlukan beberapa orang (kelompok) untuk membuat keputusan. Pilihan diantara alternatif investasi harus berdasarkan pada kriteria primer yang dipilih. Dalam kasus harus ada kriteria sekunder dalam menyederhanakan pilihan-pilihan yang ada.dalam contoh diatas analisa memihak pada alternatif membeli pembangkit istrik yang baru.
Kesimpulan
Keputusan- keputusan harus berdasarkan kepada konsekuensi yang diharapkan dari alternatif ,semua konsekuensi ini akan terjadi masa depan। Dalam membandingkan alternatif- alternatif lebih disukai membuat konsekuensi- konsekuensi sesuai satu sama lainnya selama masih dapat dilaksanakan. Yaitu konsekuensi itu harus dinyatakan dalam angka dan satuan -satuan yang sama harus digunakan pada angka- angka ini. Dalam keputusan ekonomi satuan uang merupakan Satu- satunya satuan yang memenuhi spesifikasi sebelumnya.
Daftar Pustaka
1. EL। Grant,W।G. Ireson, R.S. Leavenworth,1993, Dasar-Dasar Ekonomi Teknik, edisi 1, PT Melton Putra, Jakarta,hal 20-25.
2. J.C.L. Fish, 1923, engineering economics,jilid 2.
3. M. joyowiyono,1983 , ekonomi teknik (engineering economics),jilid 2.
25 Agustus, 2009
Muda-Mudi Nainggolan Mengisi Tujuah Belasan
Batu Aji, Minggu 16 Agustus 2009, Muda-Mudi Toga Nainggolan dan Bere Se-Barelang mengadakan rapat final untuk perayaan kemerdekaan. Rencana tempat akan dilaksanakan ditepian selat Malaka. Kawasan pantai Sekupang berjarak kira-kira 15km dari Batam Center, pusat kota. Perayaan kemerdekaan Negeri yang bernama Indonesia, panitia merencanakan telah merencanakan berbagai acara. Mulai dari acara liturgi semacam rekoleksi hingga ke berbagai aneka permainan. Seminggu sebelumnya, panitia telah melakukan survey tempat, untuk memastikan berbagai peralatan pendukung. Mulai dari tenda, listrik hingga ke properti perlombaan. Konsumsi dan hadiah perlombaan dikerjakan senin dinihari.
Pukul 4.00 WIB sore hari Teguh Nainggolan, Ketua pelaksana perayaan dan rekoleksi menginformasikan tentang persiapan konsumsi dimulai, senin pukul 2.00 WIB pagi. Manusia kurus dari tanah Sibolga ini bertanya tentang persiapan bumbu dan daging. Jujur aku juga tidak tahu. Kusarankan dia bertanya kepada Ito Sariani Br. Nainggolan, Bendahara BPH dan juga appara Botax, penanggungjawab pembelian daging. Tak berapa lama, kurang dari 15 menit telepon kembali masuk. Teguh sudah mulai terlihat mengeluh. Botax ternyata belum mendapatkan daging. Sementara Sariani belum juga belanja bumbu.
"Gimana ni appara" Teguh dengan nada mengeluh.
"Tidak apa-apa pra, tapi pinahan sama ayamnya lagi dicari kan?"
"Ya, cuma udah malam. Gimana kalo ndak ada, plan B?"
"Serba lima ribu"
"Ok, pra, ntar dikabari lagi" jawab Teguh sambil menutup pembicaraan.
Tidak ada lagi telepon, tak ada kabar. Ada dua kemungkinan semuanya sudah beres atau masih sibuk mencari. Jam 7.00 malam, Putri 7 Blok P No. 13, rumah Ito Sedia Br. Nainggolan. Tempat mempersiapkan lauk dan membungkus kado. Sudah rame. Didapur ito-ito Br. Nainggolan sudah sibuk. Ada yang didepan kompor, menggiling bumbu, menguliti bawang. Para amang boru (bere), tangannya penuh darah, mengeksekusi pinahan dan ayam.
Sementara para appara sedang sibuk diskusi, pimpinan Teguh. Semakin kuperhatikan topik pembicaraan sekitar rencana keberangkatan dan acara.
Botak melaporkan jumlah peserta yang daftar hingga malam itu.
"Udah baguslah, 60 orang sudah daftar" tanggap Teguh
"Tapi mungkin besok akan tambah lagi, biasa!" jawab Botax Nainggolan
"Tumben, otik" Timpal Ruddin Nainggolan
"Tidak masalah, mudah-mudahan besok nambah. Penting sekarang kita persiapkan acara" saran Agus Nainggolan.
Malam itu mereka mendiskusikan acara termasuk rencana berangkat dari dua titik, pertama, Simpang Putri 7, Batu Aji dan Mall Panbil, Mukakuning. Ditemani kopi khas buatan Br. Nainggolan diskusi ini berlangsung hingga pukul 23.30 WIB. Namun, satu persatu terlihat mulai tertidur. Alex dan Agus sudah memperdengarkan suara aneh. Mendengkur!
Mendengar suara aneh makin keras, Teguh membangunkan Agus, membantu Ito Leli Br. Nainggolan memasak nasi di Kandang Ayam (aneh ya, ini nama tempat bos). Wajah mabok, seperti habis minum tuak sepuluh gelas.
"Apa,...! udah jam berapa ini?" Agus tampang bingung
"Dua belas, Kekandang ayam" Teguh
Agus masih terlihat setengah sadar, menggaruk kepala.
"Jaketku mana?"
Dasar ngantuk, dia lupa kalau tak memakai jaket. Semua diam, dan memeriksa semua jaket diatas lantai. Tak ada yang cocok.
"Apa tadi aku ndak bawa ya?" Agus, wajah dah mulai sehat.
"Kayaknya tadi tak pake appara" Jawab Ricardo Nainggolan
Sepertinya dia sudah yakin datang tak memakai jaket. Sambil berdiri, dia menanyakan makanan.
"Dang adong" Ito Valen, Hetty, Teguh serentak.
"Sudahlah, male-malelah aku memasak disana ya" Agus
"Olo...!" hampir semua yang tinggal disana menjawab.
Dia pergi pergi munuju Kandang Ayam bersama amang boru Gultom.
***
Setengah jam setelah Agus berangkat jam dinding yang menggantung di dinding menunjukkan pukul 1.15 WIB. Botax meminta Ito Valen memisahkan bumbu sangsang dan ayam rendang. Dapur rumah sangat sempit. Maklum tipe 30 bos.
Dapur berukuran 2m x 3m terlihat sangat sempit. Botax menyarankan agar sangsang dimasak di halaman rumah. Satu persatu peralatan mulai dipindah. Mulai dari kompor minyak tanah, belanga (penggorengan) panci dll
"Boha, ngaboi tamulai (udah bisa dimulai)?" Botax.
"Baru tengah dua, sebaiknya mulai jam dua saja" Teguh
"Baen majo Kopi i muse Ito Naburju" Botax sambil melihat Valen
"Holan na kopi-on"jawab Valen, sambil berjalan menuju dapur.
Dari pintu depan terlihat Valen mempersiapkan kopi. Salute buat Ito Valen, walaupun kesal dia tetap saja menyuguhkan kopi.
Kurang dari sepuluh menit kopi datang dari dapur, wajah Valen tersenyum. Ntah apa yang membuatnya tersenyum. Mungkin senyum gondok!
"Ima nian Ibotokkon, naburjuon" Teguh
"Olo..., "Valen sambil ketawa kecil.
***
Penantian setengah jam bersama kopi dan juga bermacam cigarette. Ntah kenapa sebuah topik pembicaraan muncul Tentang kepatuhan kepada orang tua. Budi Nainggolan alias pulsa mulai mengeluarkan perenungan panjangnya. Bercerita tentang orang tua dan masa kelamnya. Dia bercerita tentang kehidupan mapan keluarganya namun berbalik 180 derajat karena kelakuannya.
"Jatuh bangkrut, miskin appara" Pulsa
Terdiam sejenak. Dia menarik napas panjang, seprti mencoba mengingat sesuatu. Sehabis SMP dia sudah pindah sekolah ke Medan, masuk STM. Disanalah kehidpan yang lebih parah dilakoninya. Berbagai macam cerita dikarang untuk satu tujuan uang. Mengakali orang tua. Mulai dari sambilan menarik becak, namun melakukan dengan setengah hati. Tak berapa lama, becak dijual. Duitnya? Habis ntah kemana.
Tapi terkadang tak semua demikian.
"Kadang ada juga orangtua yang berlebihan" timpal Botax
"Benar mungkin ada, tapi tak ada orang tua yang senang melihat kemunduran anaknya" Pulsa
"Ya, tapi kacaunya kadang terlalu memaksa" Botax
"Aku cuma berangkat dari pengalamanku, kadang aku berfikir janga-jangan hidup seperti ini da hubungannya dengan masa lalu dengan kedua orang tua" jelas Pulsa.
Belum Pulsa melanjutkan ceritanya, Valen datang.
"Loh, cerita terus, kapan masaknya?"
"Ambil Minyak itu Kurus" perintah Botax ke Kurus Nainggolan.
Botax menyalakan kompor minyak dan meletakkan belanga (penggorengan) diatasnya. Tuangkan minyak goreng sampai habis.
"To, mana minyak gorengnya" Valen
"Udah habis, dipakai semua" Botax
"Terus masak rendangnya?"
"Waduh.., pakai minyak ayam aja to"
Dasar anak muda, cepat menemukan jalan pintas. tak ada akar rotan pun jadi. Tak ada minyak goreng minyak ayam pun jadi.
Valen menuju kedapur dengan majah mengkerut. Marah ni..ye...
Satu persatu bumbu dimasukkan Botax hingga daging. Goyang kiri-goyang kanan. Celup jari dikit, rasakan.
"Masih kurang, coba dulu Kurus apanya yang kurang" Botax
Celup lagi
"Udah enak" Kurus
"Sude do diho tabo, ayo Pulsa" Botax
"Kurang garam, sama daun salam" Pulsa
Botax langsung kedapur, dia bawa air dan daun jeruk. Ternyata lagi-lagi jalan pintas. Tak ada daun salam daun jeruk pun jadi. Gila sulit membayangkan rasanya, masakan sangsang "tipe jalan pintas" maked by Mr. Botax.
Aduk lagi.. Aduk lagi..
Agak lama juga, membolak-balik hingga jam sudah menunjukkan pukul 4.00 WIB. Ayam tetangga Ito Sedia sudah berkeliaran. Tanda matahari sudah dekat.
Sentuhan terakhir. memisahkan daging namargota (pakai darah) dan tak margota (tak pakai darah). Dari caranya pencapuran terlihat Botax memang ahlinya. Salute buat appara Botax. Selesai, masakan siap dibungkus. Dan tidur menunggu jam berangkat, pukul 8.00WIB. Tidur, nyeyak, jangan lupa bangun!
***
Pukul 6.30 WIB Teguh Nainggolan sudah tak ada di rumah. Yang terlihat hanya Ito Valen.
"teguh dimana to" Rosaldi Nainggolan
"Bergerilya, meminjam toples sama panci. Makanya bangun yang cepat" Valen
"Ito Hetty mana?"
"Dah pulang ke Piayu, koordinir yang berangkat dari sana"
"O, o..." Rosaldi rebahan lagi
Melihat Rosaldi mau melanjutkan tidur, Ito Valen langsung bersuara.
"Ayo,.. bangun semua"
Semua terbangun. Wajah masih pucat. Maklum kurang tidur. Sebagian pulang untuk mandi sekalian menyiapkan bus. Dan yang lain mengingatkan anggota yang hendak berangkat.
Teguh datang dengan dua buah toples dan satu panci.
"Dapat dari mana appara" Rosaldi
"Biasa calon parumaen" teguh, wajah tersipu. Senyumnya pagi itu melebihi cerahnya cahaya mentari.
***
Bus sudah tiba tepat waktu pukul 7.45 WIB. Belum ada Nainggolan yang terlihat kecuali yang bertugas memasak semalam.
"Gila, tudia be do" Teguh
Kesepakatan sebelumnya bus harus berangkat pukul 8.00 WIB, teng. Karena bus yang sama harus mengangkut carteran lain jam 9.00 WIB. Mulai panik! Semua manusia didekat bus memencet handphone. Menanyakan keberadaan anggota.
"Kami dah di Panbil Mall to, 30-an orang" Ito Fitri Br. Nainggolan
"Ok, siap disana, bentar lagi bus menjemput" teguh Nainggolan.
"Bengkong ada tiga orang pra, tapi langsung ketempat" Gordon
Hingga pukul 8.30 di Putri tujuh baru 20-an orang. Supir bus sudah mulai tegang.
"Paling lambat 15 menit lagi harus berangkat" Supir bus.
"Ok, tulang" Teguh
Tak lama jemputan Panbill tiba. Gabung dengan bus Putri tujuh. Selang lima menit nainggolan dari Piayu, rombongan ito Hetty juga tiba bareng dengan Ito dari dormitory. Semua kumpul dalam satu bus. Tidak muat, sebagian akhirnya menggunakan sepeda motor. Meluncur menuju Tanjung Pinggir Sekupang, singgah di kandang ayam, jemput nasi.
***
Tanjung Pinggir 10.30 WIB, cerah. Singapura terlihat dekat. Gedung pencakar langitnya terlihat bahagia saat rombongan Nainggolan memandang kemolekan bentuknya.
Sambil berjalan menuju bibir pantai, sebagian Br. Nainggolan memasang aksi. Berfoto dengan backgroud Selat Malaka berhiaskan Singapura. Bergaya layaknya model. Lenggok kiri-lenggok kanan.
***
Acara liturgi mulai 10.30 WIB. Diisi dengan doa dan nyanyian pujian. Semua terlihat bahagia. Rasa capek satu malam serasa hilang lepas ditelan selat Malaka. Ito Irma Br. Nainggolan membawakan renungan. Salute buat Ito Irma, masih muda sudah mau berbagi dan belajar membawa renungan. Ito dan appara yang lain ditunggu gilirannya!
Liturgi ini berlangsung singkat, kurang dari satu jam. Selanjutnya sambutan ketua panitia. Teguh maju kedepan. Memulai sambutan dengan sapaan syalom!
Teguh memulai sambutannya dengan curhat tentang perjalanan kepanitiaan. Dia meminta maaf untk semua kekurangan. Dan yang paling menarik, Teguh mengungkapkan tentang rencana pesta Muda-Mudi Toga Nainggolan dan Bere Se-barelang 2010.
"Ini baru latihan, tahun 2010, kita akan mendesain Pesta Naposo yang jauh lebih besar dari perayaan ini dan juga Pesat naposo sebelumnya!" Teguh
Semua tepuk tangan. Siang itu wajah semua Nainggolan's terlihat berapi-api. Darah empat lima seperti tampak membahana dalam tubuhnya. Darah yang siap membanjiri Singapura dan Malasia, yang tampak di depan mata. Merdeka! Optimis, full..
"Saya bangga semua semangat, pertahankan!" Teguh mengakhiri sambutannya.
Saat yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Waktunya menikmati hidangan spesial khas appara Botax. Sangsang ala "jalan pintas" dan rendang ala Valen. Diiringi suara merdu Nainggolan Trio dan hembusan angin spoi-spoi tiga negara. Gila! menyenangkan. Hembusan angin tiga negara ditepian laut selat Malaka, mengubah rasa sangsang Botax ala "jalan pintas" menjadi senikmati sangsang terbaik ala Siltor. Sementara rendang ala Valen berubah lebih nikmat melebihi rendang rumah makan Pada Sederhana yang terkenal itu. Luar biasa!!
Untuk semua yang belum pernah menikmati makan di tepian selat Malaka diiringi Nainggolan trio. Menyesal anda tak pernah menikmatinya.
***
Kenyang sudah perut, sulit untuk bergerak. Seolah lambung tak lagi punya ruang kosong. Perut Azis Nainggolan sudah terlihat menonjol kedepan. Sementara Gordon Nainggolan terlihat berusaha menahan ngantuk, bawaan dari daging pinahan yang tertelan. Semua terlihat tenang mendengar Nainggolan Trio. Ntah menikmati, mungkin juga tapi sepertin ya tak sepenuhnya. Efek Pinahan sudah menjalar. Bosur!!
Hampir setengah jam waktunya untuk kembali mengajak perut yang membengkak untuk kompromi. Masih ada sedikit rasa sesak. Tapi Teguh terlihat sudah mempersiapkan acara selanjutnya bersama Valen dan Dasalon Nainggolan.
***
"Ayo semua kumpul melingkar" Dasalon dengan pengeras suara.
"Hitung sampai sepuluh yang tak ikut dalam lingkaran akan di denda" lanjut Teguh.
"Ayo, Pisang kesini kalian" seru Saut Nainggolan, memanggil sebagian yang masih dibibir pantai.
Lingkaran sudah terbentuk. Saling berpegangan tangan. Lihatkiri -lihat kanan. Lingkaran sudah terlihat rapi. Untuk membagi kelompok menjadi lima. Valen meminta semua untuk menyebut angka berurutan, mulai dari satu hingga lima- berulang.
"Mulai dari, Saut Nainggolan" Valen
Saut mulai berhitung dan dilanjutkan terus hingga semua menyebut angka. Terbentuklah lima kelompok. Now, time for game!!
Permainan pertama, setiap kelompok diminta untuk membuat yel-yel kemerdekaan. Yel terbaik akan menjadi pemenang. Semua kelompok saling mendekat. Sebagian ada yang curi-curi dengar, mau nyontek ide. Dasar Batak muda. Juara satu dimenangkan kelompok Pulsa Nainggolan. Berhak mendapatkan hadiah satu kaleng roti 2 kaleng Khong Guan tambah dua bungkus Kopiko. Mantap! Juara dua, Kelompok Fitri Br. Nainggolan, mendapatkan Satu kaleng bungkus roti Biscuits, satu bungkus Oreo dan Kopiko. Menggiurkan!! Juara tiga, kelompok Lucca Nainggolan, dapat Oero satu bungkus saja. Kacian!! Kelompok Pius Nainggolan tak dapat. Kacau!
Permainan berikutnya mengisi air dalam balon dan dilanjutkan dengan mangultong (menghembus pra!) sampai bulat besar. Gerimis mulai turun. Gelora kemerdekaan dari anak muda Nainggolan tak gentar. Maju terus pantang mundur. Semangat empat lima memang sudah tertanam kuat didalam dada, generasi muda Nainggolan. Jangankan gerimis, hujan batu sekalipun takkan membuatnya mundur. Merayakan kemerdekaan adalah penghormatan bagi mereka yang berjuang mati-matian bagi tumpah darah. Merdeka! sekali lagi bos, Merdeka! Barisan diatur, dari tepi pantai memanjang. Yang paling dekat dengan pantai mengisi air kedalam balon. Barisan kedua dan seterusnya mangultong (Akka sibalga butuha ma dison) hingga bulat besar. Dan barisan terakhir mengikat dan mengantarkannya ke tempat yang sudah disiapkan.
Tak jauh dari dugaan, kelompok Saut Nainggolan menjadi juara. Maklum badannya besar, butuha (perut) pun bolon! Juara dua Kelompok Pesta Br. Nainggolan, Ketiga Kelompok Azis Nainggolan. Semua berhak mendapatkan hadiah yang sama seperti sebelumnya. Kelompok Pius Nainggolan kembali KO. Mulai curiga!
Permainan terakhir, memberi makan pisang. Setiap kelompok akan berjalan mundur sambil mengacungkan pisang ke arah belakang. Dan seorang teman sudah menunggu sambil; membri arahan. Ada yang jalan mundur hingga ke tepi pantai. Ntah begu apa yang mengarahkan! Perlombaan ini di menangkan kelompok Azis Nainggolan. Wajar, raja pisang dari hita-an. Urutan kedua Kelompok Pulsa Nainggolan dan kelompok Lucca nainggolan urutan ketiga. Hadiah, sama lagi. Tak mengapa yang penting nilai semaraknya Bung! Kelompok Pius Nainggolan kalah lagi. Memang tak berbakat!!
Habis sudah permainan, selanjutnya acara terakhir. Aksi nyanyi bebas. Semua Naposo Nainggolan mengekspresikan keindahan suara masing-masing. Ada yang menyanyikan lagu dangdut, Pop, Luar Negeri, yang pasti tak ketinggalan lagu Batak. Acara ini berlangsung hingga pukul 5 sore. Waktu yang disepakati untuk kembali pulang. Maklum sebagian dari Ito dan appara ada yang masuk kerja malam. Batam Bung!!!
semua berkemas. Satu persatu alat musik diangkat kembali menuju parkiran bus. Termos, panci, dan perlatan lainnya di cek satu persatu. Takut ada yang ketinggalan. Maklum barang pinjaman.
Semua sudah di tumpuk di parkiran, tapi bus belum juga datang. Alex Nainggolan koordinator bus terlihat sibuk. Angkat telpon, gaya preman terminal Amplas. Sibuk!
" Barelang macet appara" Alex lapor kepada Teguh.
Semua duduk tenang, menanti bus. Sebagian wajah sudah terlihat lemas, sedikit mengantuk. Ada yang tidur-tiduran diatas rumput di bawah pohon. Menikmati angin sore. Pukul 18.30 WIB bus tiba. Semua bergerak cepat menaikkan semua perabot dan peralatan. Bus berangkat pulang dengan kepuasan akan sebuah kebrsamaan. Merdeka Indonesia. Merdeka Nainggolan.
Pukul 4.00 WIB sore hari Teguh Nainggolan, Ketua pelaksana perayaan dan rekoleksi menginformasikan tentang persiapan konsumsi dimulai, senin pukul 2.00 WIB pagi. Manusia kurus dari tanah Sibolga ini bertanya tentang persiapan bumbu dan daging. Jujur aku juga tidak tahu. Kusarankan dia bertanya kepada Ito Sariani Br. Nainggolan, Bendahara BPH dan juga appara Botax, penanggungjawab pembelian daging. Tak berapa lama, kurang dari 15 menit telepon kembali masuk. Teguh sudah mulai terlihat mengeluh. Botax ternyata belum mendapatkan daging. Sementara Sariani belum juga belanja bumbu.
"Gimana ni appara" Teguh dengan nada mengeluh.
"Tidak apa-apa pra, tapi pinahan sama ayamnya lagi dicari kan?"
"Ya, cuma udah malam. Gimana kalo ndak ada, plan B?"
"Serba lima ribu"
"Ok, pra, ntar dikabari lagi" jawab Teguh sambil menutup pembicaraan.
Tidak ada lagi telepon, tak ada kabar. Ada dua kemungkinan semuanya sudah beres atau masih sibuk mencari. Jam 7.00 malam, Putri 7 Blok P No. 13, rumah Ito Sedia Br. Nainggolan. Tempat mempersiapkan lauk dan membungkus kado. Sudah rame. Didapur ito-ito Br. Nainggolan sudah sibuk. Ada yang didepan kompor, menggiling bumbu, menguliti bawang. Para amang boru (bere), tangannya penuh darah, mengeksekusi pinahan dan ayam.
Sementara para appara sedang sibuk diskusi, pimpinan Teguh. Semakin kuperhatikan topik pembicaraan sekitar rencana keberangkatan dan acara.
Botak melaporkan jumlah peserta yang daftar hingga malam itu.
"Udah baguslah, 60 orang sudah daftar" tanggap Teguh
"Tapi mungkin besok akan tambah lagi, biasa!" jawab Botax Nainggolan
"Tumben, otik" Timpal Ruddin Nainggolan
"Tidak masalah, mudah-mudahan besok nambah. Penting sekarang kita persiapkan acara" saran Agus Nainggolan.
Malam itu mereka mendiskusikan acara termasuk rencana berangkat dari dua titik, pertama, Simpang Putri 7, Batu Aji dan Mall Panbil, Mukakuning. Ditemani kopi khas buatan Br. Nainggolan diskusi ini berlangsung hingga pukul 23.30 WIB. Namun, satu persatu terlihat mulai tertidur. Alex dan Agus sudah memperdengarkan suara aneh. Mendengkur!
Mendengar suara aneh makin keras, Teguh membangunkan Agus, membantu Ito Leli Br. Nainggolan memasak nasi di Kandang Ayam (aneh ya, ini nama tempat bos). Wajah mabok, seperti habis minum tuak sepuluh gelas.
"Apa,...! udah jam berapa ini?" Agus tampang bingung
"Dua belas, Kekandang ayam" Teguh
Agus masih terlihat setengah sadar, menggaruk kepala.
"Jaketku mana?"
Dasar ngantuk, dia lupa kalau tak memakai jaket. Semua diam, dan memeriksa semua jaket diatas lantai. Tak ada yang cocok.
"Apa tadi aku ndak bawa ya?" Agus, wajah dah mulai sehat.
"Kayaknya tadi tak pake appara" Jawab Ricardo Nainggolan
Sepertinya dia sudah yakin datang tak memakai jaket. Sambil berdiri, dia menanyakan makanan.
"Dang adong" Ito Valen, Hetty, Teguh serentak.
"Sudahlah, male-malelah aku memasak disana ya" Agus
"Olo...!" hampir semua yang tinggal disana menjawab.
Dia pergi pergi munuju Kandang Ayam bersama amang boru Gultom.
***
Setengah jam setelah Agus berangkat jam dinding yang menggantung di dinding menunjukkan pukul 1.15 WIB. Botax meminta Ito Valen memisahkan bumbu sangsang dan ayam rendang. Dapur rumah sangat sempit. Maklum tipe 30 bos.
Dapur berukuran 2m x 3m terlihat sangat sempit. Botax menyarankan agar sangsang dimasak di halaman rumah. Satu persatu peralatan mulai dipindah. Mulai dari kompor minyak tanah, belanga (penggorengan) panci dll
"Boha, ngaboi tamulai (udah bisa dimulai)?" Botax.
"Baru tengah dua, sebaiknya mulai jam dua saja" Teguh
"Baen majo Kopi i muse Ito Naburju" Botax sambil melihat Valen
"Holan na kopi-on"jawab Valen, sambil berjalan menuju dapur.
Dari pintu depan terlihat Valen mempersiapkan kopi. Salute buat Ito Valen, walaupun kesal dia tetap saja menyuguhkan kopi.
Kurang dari sepuluh menit kopi datang dari dapur, wajah Valen tersenyum. Ntah apa yang membuatnya tersenyum. Mungkin senyum gondok!
"Ima nian Ibotokkon, naburjuon" Teguh
"Olo..., "Valen sambil ketawa kecil.
***
Penantian setengah jam bersama kopi dan juga bermacam cigarette. Ntah kenapa sebuah topik pembicaraan muncul Tentang kepatuhan kepada orang tua. Budi Nainggolan alias pulsa mulai mengeluarkan perenungan panjangnya. Bercerita tentang orang tua dan masa kelamnya. Dia bercerita tentang kehidupan mapan keluarganya namun berbalik 180 derajat karena kelakuannya.
"Jatuh bangkrut, miskin appara" Pulsa
Terdiam sejenak. Dia menarik napas panjang, seprti mencoba mengingat sesuatu. Sehabis SMP dia sudah pindah sekolah ke Medan, masuk STM. Disanalah kehidpan yang lebih parah dilakoninya. Berbagai macam cerita dikarang untuk satu tujuan uang. Mengakali orang tua. Mulai dari sambilan menarik becak, namun melakukan dengan setengah hati. Tak berapa lama, becak dijual. Duitnya? Habis ntah kemana.
Tapi terkadang tak semua demikian.
"Kadang ada juga orangtua yang berlebihan" timpal Botax
"Benar mungkin ada, tapi tak ada orang tua yang senang melihat kemunduran anaknya" Pulsa
"Ya, tapi kacaunya kadang terlalu memaksa" Botax
"Aku cuma berangkat dari pengalamanku, kadang aku berfikir janga-jangan hidup seperti ini da hubungannya dengan masa lalu dengan kedua orang tua" jelas Pulsa.
Belum Pulsa melanjutkan ceritanya, Valen datang.
"Loh, cerita terus, kapan masaknya?"
"Ambil Minyak itu Kurus" perintah Botax ke Kurus Nainggolan.
Botax menyalakan kompor minyak dan meletakkan belanga (penggorengan) diatasnya. Tuangkan minyak goreng sampai habis.
"To, mana minyak gorengnya" Valen
"Udah habis, dipakai semua" Botax
"Terus masak rendangnya?"
"Waduh.., pakai minyak ayam aja to"
Dasar anak muda, cepat menemukan jalan pintas. tak ada akar rotan pun jadi. Tak ada minyak goreng minyak ayam pun jadi.
Valen menuju kedapur dengan majah mengkerut. Marah ni..ye...
Satu persatu bumbu dimasukkan Botax hingga daging. Goyang kiri-goyang kanan. Celup jari dikit, rasakan.
"Masih kurang, coba dulu Kurus apanya yang kurang" Botax
Celup lagi
"Udah enak" Kurus
"Sude do diho tabo, ayo Pulsa" Botax
"Kurang garam, sama daun salam" Pulsa
Botax langsung kedapur, dia bawa air dan daun jeruk. Ternyata lagi-lagi jalan pintas. Tak ada daun salam daun jeruk pun jadi. Gila sulit membayangkan rasanya, masakan sangsang "tipe jalan pintas" maked by Mr. Botax.
Aduk lagi.. Aduk lagi..
Agak lama juga, membolak-balik hingga jam sudah menunjukkan pukul 4.00 WIB. Ayam tetangga Ito Sedia sudah berkeliaran. Tanda matahari sudah dekat.
Sentuhan terakhir. memisahkan daging namargota (pakai darah) dan tak margota (tak pakai darah). Dari caranya pencapuran terlihat Botax memang ahlinya. Salute buat appara Botax. Selesai, masakan siap dibungkus. Dan tidur menunggu jam berangkat, pukul 8.00WIB. Tidur, nyeyak, jangan lupa bangun!
***
Pukul 6.30 WIB Teguh Nainggolan sudah tak ada di rumah. Yang terlihat hanya Ito Valen.
"teguh dimana to" Rosaldi Nainggolan
"Bergerilya, meminjam toples sama panci. Makanya bangun yang cepat" Valen
"Ito Hetty mana?"
"Dah pulang ke Piayu, koordinir yang berangkat dari sana"
"O, o..." Rosaldi rebahan lagi
Melihat Rosaldi mau melanjutkan tidur, Ito Valen langsung bersuara.
"Ayo,.. bangun semua"
Semua terbangun. Wajah masih pucat. Maklum kurang tidur. Sebagian pulang untuk mandi sekalian menyiapkan bus. Dan yang lain mengingatkan anggota yang hendak berangkat.
Teguh datang dengan dua buah toples dan satu panci.
"Dapat dari mana appara" Rosaldi
"Biasa calon parumaen" teguh, wajah tersipu. Senyumnya pagi itu melebihi cerahnya cahaya mentari.
***
Bus sudah tiba tepat waktu pukul 7.45 WIB. Belum ada Nainggolan yang terlihat kecuali yang bertugas memasak semalam.
"Gila, tudia be do" Teguh
Kesepakatan sebelumnya bus harus berangkat pukul 8.00 WIB, teng. Karena bus yang sama harus mengangkut carteran lain jam 9.00 WIB. Mulai panik! Semua manusia didekat bus memencet handphone. Menanyakan keberadaan anggota.
"Kami dah di Panbil Mall to, 30-an orang" Ito Fitri Br. Nainggolan
"Ok, siap disana, bentar lagi bus menjemput" teguh Nainggolan.
"Bengkong ada tiga orang pra, tapi langsung ketempat" Gordon
Hingga pukul 8.30 di Putri tujuh baru 20-an orang. Supir bus sudah mulai tegang.
"Paling lambat 15 menit lagi harus berangkat" Supir bus.
"Ok, tulang" Teguh
Tak lama jemputan Panbill tiba. Gabung dengan bus Putri tujuh. Selang lima menit nainggolan dari Piayu, rombongan ito Hetty juga tiba bareng dengan Ito dari dormitory. Semua kumpul dalam satu bus. Tidak muat, sebagian akhirnya menggunakan sepeda motor. Meluncur menuju Tanjung Pinggir Sekupang, singgah di kandang ayam, jemput nasi.
***
Tanjung Pinggir 10.30 WIB, cerah. Singapura terlihat dekat. Gedung pencakar langitnya terlihat bahagia saat rombongan Nainggolan memandang kemolekan bentuknya.
Sambil berjalan menuju bibir pantai, sebagian Br. Nainggolan memasang aksi. Berfoto dengan backgroud Selat Malaka berhiaskan Singapura. Bergaya layaknya model. Lenggok kiri-lenggok kanan.
***
Acara liturgi mulai 10.30 WIB. Diisi dengan doa dan nyanyian pujian. Semua terlihat bahagia. Rasa capek satu malam serasa hilang lepas ditelan selat Malaka. Ito Irma Br. Nainggolan membawakan renungan. Salute buat Ito Irma, masih muda sudah mau berbagi dan belajar membawa renungan. Ito dan appara yang lain ditunggu gilirannya!
Liturgi ini berlangsung singkat, kurang dari satu jam. Selanjutnya sambutan ketua panitia. Teguh maju kedepan. Memulai sambutan dengan sapaan syalom!
Teguh memulai sambutannya dengan curhat tentang perjalanan kepanitiaan. Dia meminta maaf untk semua kekurangan. Dan yang paling menarik, Teguh mengungkapkan tentang rencana pesta Muda-Mudi Toga Nainggolan dan Bere Se-barelang 2010.
"Ini baru latihan, tahun 2010, kita akan mendesain Pesta Naposo yang jauh lebih besar dari perayaan ini dan juga Pesat naposo sebelumnya!" Teguh
Semua tepuk tangan. Siang itu wajah semua Nainggolan's terlihat berapi-api. Darah empat lima seperti tampak membahana dalam tubuhnya. Darah yang siap membanjiri Singapura dan Malasia, yang tampak di depan mata. Merdeka! Optimis, full..
"Saya bangga semua semangat, pertahankan!" Teguh mengakhiri sambutannya.
Saat yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Waktunya menikmati hidangan spesial khas appara Botax. Sangsang ala "jalan pintas" dan rendang ala Valen. Diiringi suara merdu Nainggolan Trio dan hembusan angin spoi-spoi tiga negara. Gila! menyenangkan. Hembusan angin tiga negara ditepian laut selat Malaka, mengubah rasa sangsang Botax ala "jalan pintas" menjadi senikmati sangsang terbaik ala Siltor. Sementara rendang ala Valen berubah lebih nikmat melebihi rendang rumah makan Pada Sederhana yang terkenal itu. Luar biasa!!
Untuk semua yang belum pernah menikmati makan di tepian selat Malaka diiringi Nainggolan trio. Menyesal anda tak pernah menikmatinya.
***
Kenyang sudah perut, sulit untuk bergerak. Seolah lambung tak lagi punya ruang kosong. Perut Azis Nainggolan sudah terlihat menonjol kedepan. Sementara Gordon Nainggolan terlihat berusaha menahan ngantuk, bawaan dari daging pinahan yang tertelan. Semua terlihat tenang mendengar Nainggolan Trio. Ntah menikmati, mungkin juga tapi sepertin ya tak sepenuhnya. Efek Pinahan sudah menjalar. Bosur!!
Hampir setengah jam waktunya untuk kembali mengajak perut yang membengkak untuk kompromi. Masih ada sedikit rasa sesak. Tapi Teguh terlihat sudah mempersiapkan acara selanjutnya bersama Valen dan Dasalon Nainggolan.
***
"Ayo semua kumpul melingkar" Dasalon dengan pengeras suara.
"Hitung sampai sepuluh yang tak ikut dalam lingkaran akan di denda" lanjut Teguh.
"Ayo, Pisang kesini kalian" seru Saut Nainggolan, memanggil sebagian yang masih dibibir pantai.
Lingkaran sudah terbentuk. Saling berpegangan tangan. Lihatkiri -lihat kanan. Lingkaran sudah terlihat rapi. Untuk membagi kelompok menjadi lima. Valen meminta semua untuk menyebut angka berurutan, mulai dari satu hingga lima- berulang.
"Mulai dari, Saut Nainggolan" Valen
Saut mulai berhitung dan dilanjutkan terus hingga semua menyebut angka. Terbentuklah lima kelompok. Now, time for game!!
Permainan pertama, setiap kelompok diminta untuk membuat yel-yel kemerdekaan. Yel terbaik akan menjadi pemenang. Semua kelompok saling mendekat. Sebagian ada yang curi-curi dengar, mau nyontek ide. Dasar Batak muda. Juara satu dimenangkan kelompok Pulsa Nainggolan. Berhak mendapatkan hadiah satu kaleng roti 2 kaleng Khong Guan tambah dua bungkus Kopiko. Mantap! Juara dua, Kelompok Fitri Br. Nainggolan, mendapatkan Satu kaleng bungkus roti Biscuits, satu bungkus Oreo dan Kopiko. Menggiurkan!! Juara tiga, kelompok Lucca Nainggolan, dapat Oero satu bungkus saja. Kacian!! Kelompok Pius Nainggolan tak dapat. Kacau!
Permainan berikutnya mengisi air dalam balon dan dilanjutkan dengan mangultong (menghembus pra!) sampai bulat besar. Gerimis mulai turun. Gelora kemerdekaan dari anak muda Nainggolan tak gentar. Maju terus pantang mundur. Semangat empat lima memang sudah tertanam kuat didalam dada, generasi muda Nainggolan. Jangankan gerimis, hujan batu sekalipun takkan membuatnya mundur. Merayakan kemerdekaan adalah penghormatan bagi mereka yang berjuang mati-matian bagi tumpah darah. Merdeka! sekali lagi bos, Merdeka! Barisan diatur, dari tepi pantai memanjang. Yang paling dekat dengan pantai mengisi air kedalam balon. Barisan kedua dan seterusnya mangultong (Akka sibalga butuha ma dison) hingga bulat besar. Dan barisan terakhir mengikat dan mengantarkannya ke tempat yang sudah disiapkan.
Tak jauh dari dugaan, kelompok Saut Nainggolan menjadi juara. Maklum badannya besar, butuha (perut) pun bolon! Juara dua Kelompok Pesta Br. Nainggolan, Ketiga Kelompok Azis Nainggolan. Semua berhak mendapatkan hadiah yang sama seperti sebelumnya. Kelompok Pius Nainggolan kembali KO. Mulai curiga!
Permainan terakhir, memberi makan pisang. Setiap kelompok akan berjalan mundur sambil mengacungkan pisang ke arah belakang. Dan seorang teman sudah menunggu sambil; membri arahan. Ada yang jalan mundur hingga ke tepi pantai. Ntah begu apa yang mengarahkan! Perlombaan ini di menangkan kelompok Azis Nainggolan. Wajar, raja pisang dari hita-an. Urutan kedua Kelompok Pulsa Nainggolan dan kelompok Lucca nainggolan urutan ketiga. Hadiah, sama lagi. Tak mengapa yang penting nilai semaraknya Bung! Kelompok Pius Nainggolan kalah lagi. Memang tak berbakat!!
Habis sudah permainan, selanjutnya acara terakhir. Aksi nyanyi bebas. Semua Naposo Nainggolan mengekspresikan keindahan suara masing-masing. Ada yang menyanyikan lagu dangdut, Pop, Luar Negeri, yang pasti tak ketinggalan lagu Batak. Acara ini berlangsung hingga pukul 5 sore. Waktu yang disepakati untuk kembali pulang. Maklum sebagian dari Ito dan appara ada yang masuk kerja malam. Batam Bung!!!
semua berkemas. Satu persatu alat musik diangkat kembali menuju parkiran bus. Termos, panci, dan perlatan lainnya di cek satu persatu. Takut ada yang ketinggalan. Maklum barang pinjaman.
Semua sudah di tumpuk di parkiran, tapi bus belum juga datang. Alex Nainggolan koordinator bus terlihat sibuk. Angkat telpon, gaya preman terminal Amplas. Sibuk!
" Barelang macet appara" Alex lapor kepada Teguh.
Semua duduk tenang, menanti bus. Sebagian wajah sudah terlihat lemas, sedikit mengantuk. Ada yang tidur-tiduran diatas rumput di bawah pohon. Menikmati angin sore. Pukul 18.30 WIB bus tiba. Semua bergerak cepat menaikkan semua perabot dan peralatan. Bus berangkat pulang dengan kepuasan akan sebuah kebrsamaan. Merdeka Indonesia. Merdeka Nainggolan.
24 Agustus, 2009
Berita Miris
Berita miris sering menjadi titik tolak yang membawa manusia untuk kembali berfikir akan makna hidup. Nafas bukan lagi sekedar aliran udara yang bersirkulasi dalam tubuh. Jiwa tak hanya sebuah makna kosong tanpa arti. Rasionalitas telah terjungkal oleh belenggu kenyataan yang jauh dari alam pikiran. Ipat, seorang teman baru yang belum lama bergabung dalam satu korps kerja, Panasonic. Dia terbaring lemah tak berdaya.
Ini bukan berita pertama yang kualami setelah mengijakkan kaki di bumi Batam. Beberapa bulan lalu orang tua teman satu rekrutan dari Jogja, Ima mantan trainer MTC, meninggal dunia, akibat serangan Jantung. Setelah itu datang kabar seorang teman, Manungkol juga tergelak dipinggir jalan setalah ditabrak lari. Tak berapa lama nafas terkahir juga menyela, meninggal dirumah sakit Otorita. Hanya beselang beberapa bulan kembali, seorang teman terbaring di rumah sakit.
Buatku atau kita, doa adalah sarana yang paling ujung yang bisa kita serahkan, selain memberi sesuatu yang sekiranya dapat membantu dalam hal yang bersifat dunia. Seorang teman berkata akan ada semcam sumbangan bersama anak-anak Panasonic. Sebuah berita baik yang kembali menyadarkan kita akan kekuatan hati. Demi sesama, teman, sahabat atau apapun itu. Kadang berita miris datang kepada orang-orang dekat kita, akan membawa kita pada sebuah titik, merenung kembali akan makna hidup.
Hidup, Jalan Tuhan Pilihan Milik Manusia
Hidup tak jarang dimaknai sebagai keberadaan fisik. Pendapat ini setidaknya diamini oleh para penganut faham meterialis. Dimana hidup adalah dunia, tanpa ada setelahnya. Namun untuk konteks kita dengan sudut pandang religiusitas, menempatkan hidup seperti dua titik, kosong dan ada. Kosong saat kita tak mengisinya dengan berbagai makna positif dan hidup jika melakukan hal yang sebaliknya, berbuat sesuatu untuk orang lain.
Entah menagapa aku kembaliteringat dengan seorang teman. Bukan berita kematian, bukan pula berita kepedihan. Tapi berita kegigihan yang penuh heroisme. Seorang teman yang mengantarkan pikiranku balik ke tahun 2003, saat dimana pundak masih ringan dan kepala masih ganas. Benhard Simanjuntak, Bang Ben demikian teman-teman menyapanya. Benhard, manusia tak biasa yang ditempatkan luar biasa oleh manusia yang tak paham apa yang ada dalam pikiranya. Bagaimana tidak, dia yang coba beridiri didepan dan menghalau tirani habis ditindas untuk sebuah alasan yang tak jelas. Tapi aku masih yakin dengan dunia ide ala aristoteles. Badan bisa dibelenggu tapi hati dan pikiran siapa yang bisa menghalau. Hanya orang bodoh yang mencoba mencegah sebuah cita-cita, perjuangan atau pemikiran sekalipun dengan menggunakan pembelengguan.
Sorry jika sedikit sentimentil.
Namun kala kekuatan hati terkadang juga membutuhkan pertimbangan rasionalitas. Teman, menyumbang dengan hati adalah kebaikan. Tapi ada hal lain yang kita lupakan saat kita harus merenung akan arti hidup yang sesungguhnya. Perjuanagn. Perjuangan melawan penyakit, melawan kematian (dalam prespektif pecegahan tanpa mengurangi kehendak yang Kuasa) dengan alam berfikir kita. Perjuangan untuk mengubah keadaan kita saat semua keyataan miris itu tiba.
Kini kehidupan memberikan manusia akan akal pikiran selain perasaan. Ini adalah anugrah terbesar dan terlengkap yang pemberian Ilahi bagi ciptaanya. Perasaan, kita sudah menunjukkannya lewat kerelaan berbagi dengan sesama. Akal pikiran (rasionalitas) menjadi senjata ampuh, jaminan bagi manusia untuk dapat tetap bertahan hidup untuk melawan kemungkin akan bahaya bagi kehidupannya.
Bagimu, bagi kita, sudahkah berfikir akan jaminan yang lebih baik untuk kehidupan kita? Berita miris ini datang menyapa kita sekarang lewat seorang sahabat. Setelahnya kita tak tahu. Saat semacam inilah akal pikiran saatnya kembali menyatu dengan perasaan. Membangun sebuah sistem yang memebrikan kita akan jaminan dalam mempertahankan hidup yang lebih baik. Jika sakit kita bisa berobat dengan layak. Jika ada bagian keluarga utama kita mengalami musibah, ada jaminan untuk dapat memebri penghormatan yang layak.
Pernah berfikir akan hal ini. Moga dan saya yakin. Namun sudahkah atau akankah itu akan menjadi bagian dari perjalanan hidup kita. Mungkin tak tepat untuk bertanya pada rumput yang bergoyang, saat kepala kita masih mungkin untuk digoyang memikirkannya. Satu hal yang ingin kusampaikan, Tuhan memiliki semua jalan, mati dan hidup. Namun jangan lupa, manusia diberi pilihan akan penggunaan jalan itu. Berlari diatas jalan kehidupan atau merangkak dijalur kematian. Ini adalah pilihan dari yang Ilahi. Satu pilihan terbesar yang memungkinkan manusia dengan sang pencipta hidup dalam suasana demokrasi. Dengan juri paling adil sang Ilahi.
(PIUS: Catatan: manusia dengan manusia)
Ini bukan berita pertama yang kualami setelah mengijakkan kaki di bumi Batam. Beberapa bulan lalu orang tua teman satu rekrutan dari Jogja, Ima mantan trainer MTC, meninggal dunia, akibat serangan Jantung. Setelah itu datang kabar seorang teman, Manungkol juga tergelak dipinggir jalan setalah ditabrak lari. Tak berapa lama nafas terkahir juga menyela, meninggal dirumah sakit Otorita. Hanya beselang beberapa bulan kembali, seorang teman terbaring di rumah sakit.
Buatku atau kita, doa adalah sarana yang paling ujung yang bisa kita serahkan, selain memberi sesuatu yang sekiranya dapat membantu dalam hal yang bersifat dunia. Seorang teman berkata akan ada semcam sumbangan bersama anak-anak Panasonic. Sebuah berita baik yang kembali menyadarkan kita akan kekuatan hati. Demi sesama, teman, sahabat atau apapun itu. Kadang berita miris datang kepada orang-orang dekat kita, akan membawa kita pada sebuah titik, merenung kembali akan makna hidup.
Hidup, Jalan Tuhan Pilihan Milik Manusia
Hidup tak jarang dimaknai sebagai keberadaan fisik. Pendapat ini setidaknya diamini oleh para penganut faham meterialis. Dimana hidup adalah dunia, tanpa ada setelahnya. Namun untuk konteks kita dengan sudut pandang religiusitas, menempatkan hidup seperti dua titik, kosong dan ada. Kosong saat kita tak mengisinya dengan berbagai makna positif dan hidup jika melakukan hal yang sebaliknya, berbuat sesuatu untuk orang lain.
Entah menagapa aku kembaliteringat dengan seorang teman. Bukan berita kematian, bukan pula berita kepedihan. Tapi berita kegigihan yang penuh heroisme. Seorang teman yang mengantarkan pikiranku balik ke tahun 2003, saat dimana pundak masih ringan dan kepala masih ganas. Benhard Simanjuntak, Bang Ben demikian teman-teman menyapanya. Benhard, manusia tak biasa yang ditempatkan luar biasa oleh manusia yang tak paham apa yang ada dalam pikiranya. Bagaimana tidak, dia yang coba beridiri didepan dan menghalau tirani habis ditindas untuk sebuah alasan yang tak jelas. Tapi aku masih yakin dengan dunia ide ala aristoteles. Badan bisa dibelenggu tapi hati dan pikiran siapa yang bisa menghalau. Hanya orang bodoh yang mencoba mencegah sebuah cita-cita, perjuangan atau pemikiran sekalipun dengan menggunakan pembelengguan.
Sorry jika sedikit sentimentil.
Namun kala kekuatan hati terkadang juga membutuhkan pertimbangan rasionalitas. Teman, menyumbang dengan hati adalah kebaikan. Tapi ada hal lain yang kita lupakan saat kita harus merenung akan arti hidup yang sesungguhnya. Perjuanagn. Perjuangan melawan penyakit, melawan kematian (dalam prespektif pecegahan tanpa mengurangi kehendak yang Kuasa) dengan alam berfikir kita. Perjuangan untuk mengubah keadaan kita saat semua keyataan miris itu tiba.
Kini kehidupan memberikan manusia akan akal pikiran selain perasaan. Ini adalah anugrah terbesar dan terlengkap yang pemberian Ilahi bagi ciptaanya. Perasaan, kita sudah menunjukkannya lewat kerelaan berbagi dengan sesama. Akal pikiran (rasionalitas) menjadi senjata ampuh, jaminan bagi manusia untuk dapat tetap bertahan hidup untuk melawan kemungkin akan bahaya bagi kehidupannya.
Bagimu, bagi kita, sudahkah berfikir akan jaminan yang lebih baik untuk kehidupan kita? Berita miris ini datang menyapa kita sekarang lewat seorang sahabat. Setelahnya kita tak tahu. Saat semacam inilah akal pikiran saatnya kembali menyatu dengan perasaan. Membangun sebuah sistem yang memebrikan kita akan jaminan dalam mempertahankan hidup yang lebih baik. Jika sakit kita bisa berobat dengan layak. Jika ada bagian keluarga utama kita mengalami musibah, ada jaminan untuk dapat memebri penghormatan yang layak.
Pernah berfikir akan hal ini. Moga dan saya yakin. Namun sudahkah atau akankah itu akan menjadi bagian dari perjalanan hidup kita. Mungkin tak tepat untuk bertanya pada rumput yang bergoyang, saat kepala kita masih mungkin untuk digoyang memikirkannya. Satu hal yang ingin kusampaikan, Tuhan memiliki semua jalan, mati dan hidup. Namun jangan lupa, manusia diberi pilihan akan penggunaan jalan itu. Berlari diatas jalan kehidupan atau merangkak dijalur kematian. Ini adalah pilihan dari yang Ilahi. Satu pilihan terbesar yang memungkinkan manusia dengan sang pencipta hidup dalam suasana demokrasi. Dengan juri paling adil sang Ilahi.
(PIUS: Catatan: manusia dengan manusia)
Kedai Namboru Juminten Nadeak
Kedai Namboru Juminten Nadeak, pukul 5-an sore hari selepas kerja ada janji ketemu dengan beberapa teman. Keda Namboru yang satu ini memang jadi semacam tempat pertemuan rutin bagi komunitas kami. Tak disangka ketemu dengan Benhard Simanjuntak, manusia aneh bin gila. Aneh akan kekuatan semangatnya dan gila dengan cita-citanya untuk satu dunia yang lebih beradab.
Dua Gelas Gopi Berjuta Resah
Sambil menunggu, Benhard memesan dua gelas kopi. dua gelas kopi sejuta mimpi, demikian bang Benh memulai pembicaraan. Dimulai diri situasi kerja yang kian hari kian menjemukan. Tak ada satu yang baru, semua tetap sama, samar perlahan menuju gelap. Satu persatu yang kita miliki mulai hilang. Kini adakah yang bertanya, kenapa hidup masih seperti ini? "Kadang kita hanya dihargai sebatas waktu dan tenaga!" cetus Benhard.
Bayangkan kerja yang dibebankan terkadang memaksa kita harus menuangkan segala isi kepala, demi sebuah tututan besar, target. Mulai dari productivity yang tinggi, efisiensi hingga kepada peningkatan kualitas. Ini semua menjadi beban kerja yang selalu dan hampir tiap hari menjadi titik pencapaian yang diharapkan perusahaan.
Namun, disisi lain terkadang segala pencapaian tidak memiliki imabas yang sama terhadap sebuah pencapaian. Bertanyalah, berapa besar sudah peningkatan produktivitas yang tercapai? berapa banyak sudah penghematan yang terjadi? Atau seberapa besar usaha yang telah dilakukan untuk mencapai titik kualitas tertinggi? Adakah hal yang istimewa datang kepada kita saat semua pencapaian itu telah menjadi sebuah kenyataan?
Ya sebuah kenyataan memang datang, pahit. Semkin lama kita hidup di dalam rumah (PT) yang kita tinggali ini semakin banyak hal aneh yang kita jumpai, kejanggalan. Masih ingat pertama beberapa tahun lalu dengan bingkisan ulang tahun? Atau mungkin masih ingat dengan lapangan sepakbola yang dibelakang rumah kita ini? satu persatu hilang, tak tahu apa yang menjadi penyebabnya. Mungkin efisiensi. Tapi efisiensi yang sungguh keterlaluan, dimana sisi media motivasi semacam itu ditarik demi satu dewa tua bernama efisiensi.
Itu hanya satu dua cupilikan kilas balik yang kita jumpai di rumah kita kini. Sebuah dewa lama berwajah baru. Ntah ini akan berhenti disini atau masih lanjut. Dan jika harus dilanjutkan hal apa lagi dari yang sekarang akan menghilang. Mungkin serapan pagi akan di hapus, mungkin parcel tahunan atau jangan - jangan ada hal ekstrim yang bisa juga dicabut, seperti aturan overtime untuk malam hari.
Hal ini sudah terjadi dengan saudara tiri kita (karyawan dari Global dan Petra- red) yang bekerja di rumah kita ini. Malam hari mereka hanya mendapatkan kurang dari 50% dari yang seharusnya mereka dapatkan diwaktu kerja lembur di malam hari.
Memang kita yang menjadi anak kandung masih merasakan hal yang normal, 4 jam untuk malam. Tapi siapa yang bisa menerka mereka yang diatas akan juga memperlakukan anak setengah kandung itu pun akan dijatuhi dengan aturan yang sama dengan sadara kita anak tiri itu.
Pada akhirnya bagiku semua yang menjadi visi mereka (perusahaan) hanya sebuah mimpi yang membawa kita terlena akan kemirisan hidup. Rumah kita ini tak lebih melihat penghuninya sebagai bilangan angka. Manusia dengan nomor. Hingga akhirnya setiap kepala kita hanya akan dihargai dengan angka-angka mati. Ada Rp5800, Rp.8000 atau ada sedikit diatas Rp.10000, per jam. Kita ada dimana? Manusia dengan harga perjam berapakah kita sekarang? Sungguh memalukan sebuah rumah besar seperti yang kita tinggali hanya memaknai penghuninya dengan bilangan-bilangan mati, miskin motivasi dan juga kompetisi.
Mungkin ada yang berfikir, tapi mudah mudahan bukan dari komunitas kita (SPMI-red) bahwa manusaia dengan kerja keras menghasilkan 20 juta barang dengan kualitas terbaik mendapatkan reward yang sama dengan manusia yang duduk tenang seolah tak melihat masalah.
Lantas untuk apa bekerja keras? "Sebuah pemikiran yang dibentuk oleh sistem yang bodoh yang dirancang oleh manusia-manusia aneh yang tak mengerti apa sesungguhnya arti dari manusia sebagai ciptaan tersempurna dari sang Ilahi. Ntahlah mereka mengerti dengan apa yang mereka lakukan dan akan mereka lakukan." tandas Benhard Simanjuntak sambil memanggil Namboru Juminten Nadeak yang sedang menyanyikan Sinanggar tullo dengan gaya sinden. Salam melihat. (disarikan: Pius Nainggolan)
Dua Gelas Gopi Berjuta Resah
Sambil menunggu, Benhard memesan dua gelas kopi. dua gelas kopi sejuta mimpi, demikian bang Benh memulai pembicaraan. Dimulai diri situasi kerja yang kian hari kian menjemukan. Tak ada satu yang baru, semua tetap sama, samar perlahan menuju gelap. Satu persatu yang kita miliki mulai hilang. Kini adakah yang bertanya, kenapa hidup masih seperti ini? "Kadang kita hanya dihargai sebatas waktu dan tenaga!" cetus Benhard.
Bayangkan kerja yang dibebankan terkadang memaksa kita harus menuangkan segala isi kepala, demi sebuah tututan besar, target. Mulai dari productivity yang tinggi, efisiensi hingga kepada peningkatan kualitas. Ini semua menjadi beban kerja yang selalu dan hampir tiap hari menjadi titik pencapaian yang diharapkan perusahaan.
Namun, disisi lain terkadang segala pencapaian tidak memiliki imabas yang sama terhadap sebuah pencapaian. Bertanyalah, berapa besar sudah peningkatan produktivitas yang tercapai? berapa banyak sudah penghematan yang terjadi? Atau seberapa besar usaha yang telah dilakukan untuk mencapai titik kualitas tertinggi? Adakah hal yang istimewa datang kepada kita saat semua pencapaian itu telah menjadi sebuah kenyataan?
Ya sebuah kenyataan memang datang, pahit. Semkin lama kita hidup di dalam rumah (PT) yang kita tinggali ini semakin banyak hal aneh yang kita jumpai, kejanggalan. Masih ingat pertama beberapa tahun lalu dengan bingkisan ulang tahun? Atau mungkin masih ingat dengan lapangan sepakbola yang dibelakang rumah kita ini? satu persatu hilang, tak tahu apa yang menjadi penyebabnya. Mungkin efisiensi. Tapi efisiensi yang sungguh keterlaluan, dimana sisi media motivasi semacam itu ditarik demi satu dewa tua bernama efisiensi.
Itu hanya satu dua cupilikan kilas balik yang kita jumpai di rumah kita kini. Sebuah dewa lama berwajah baru. Ntah ini akan berhenti disini atau masih lanjut. Dan jika harus dilanjutkan hal apa lagi dari yang sekarang akan menghilang. Mungkin serapan pagi akan di hapus, mungkin parcel tahunan atau jangan - jangan ada hal ekstrim yang bisa juga dicabut, seperti aturan overtime untuk malam hari.
Hal ini sudah terjadi dengan saudara tiri kita (karyawan dari Global dan Petra- red) yang bekerja di rumah kita ini. Malam hari mereka hanya mendapatkan kurang dari 50% dari yang seharusnya mereka dapatkan diwaktu kerja lembur di malam hari.
Memang kita yang menjadi anak kandung masih merasakan hal yang normal, 4 jam untuk malam. Tapi siapa yang bisa menerka mereka yang diatas akan juga memperlakukan anak setengah kandung itu pun akan dijatuhi dengan aturan yang sama dengan sadara kita anak tiri itu.
Pada akhirnya bagiku semua yang menjadi visi mereka (perusahaan) hanya sebuah mimpi yang membawa kita terlena akan kemirisan hidup. Rumah kita ini tak lebih melihat penghuninya sebagai bilangan angka. Manusia dengan nomor. Hingga akhirnya setiap kepala kita hanya akan dihargai dengan angka-angka mati. Ada Rp5800, Rp.8000 atau ada sedikit diatas Rp.10000, per jam. Kita ada dimana? Manusia dengan harga perjam berapakah kita sekarang? Sungguh memalukan sebuah rumah besar seperti yang kita tinggali hanya memaknai penghuninya dengan bilangan-bilangan mati, miskin motivasi dan juga kompetisi.
Mungkin ada yang berfikir, tapi mudah mudahan bukan dari komunitas kita (SPMI-red) bahwa manusaia dengan kerja keras menghasilkan 20 juta barang dengan kualitas terbaik mendapatkan reward yang sama dengan manusia yang duduk tenang seolah tak melihat masalah.
Lantas untuk apa bekerja keras? "Sebuah pemikiran yang dibentuk oleh sistem yang bodoh yang dirancang oleh manusia-manusia aneh yang tak mengerti apa sesungguhnya arti dari manusia sebagai ciptaan tersempurna dari sang Ilahi. Ntahlah mereka mengerti dengan apa yang mereka lakukan dan akan mereka lakukan." tandas Benhard Simanjuntak sambil memanggil Namboru Juminten Nadeak yang sedang menyanyikan Sinanggar tullo dengan gaya sinden. Salam melihat. (disarikan: Pius Nainggolan)
Langganan:
Postingan (Atom)